SEKILAS SEJARAH DAN ARSITEKTUR “TOKO MERAH”

SEKILAS SEJARAH DAN ARSITEKTUR “TOKO MERAH”

A. SEJARAH

Usia bangunan                        : 280 tahun (1730 – 2010)

Letak bangunan                      : Jl. Kalibesar Barat No. 11, Kelurahan Roa Malaka,

Kecamatan   Tambora,  Jakarta Barat.

A.1. Karakteristik Bangunan           :

– Salah satu dari 216 monumen cagar budaya di DKI Jakarta.

– Salah satu dari 8 monumen warisan VOC yang berada di dalam kawasan    tembok dan parit pertahanan kota asli Batavia.

– Satu-satunya bangunan bekas rumah tinggal elit zaman kejayaan VOC yang paling utuh dan terawat, serta mempertahankan keasliannya.

A.2. Peraturan yang melindunginya :

–  Bangunan cagar budaya ini diatur dalam Undang-undang Monumen Ordonantie No. 19 Tahun 1931 (Staatsblad Tahun 1931 No. 238) yang kemudian diubah dengan Monumenten Ordonantie No. 21 Tahun 1934 (Staatsblad Tahun 1934 No. 515)

– Peraturan yang dikeluarkan Gubernur Ali Sadikin, SK Gubernur No.Cb.11/1/12/1972, tanggal 10 Januari 1972, yang menetapkan tentang pemugaran bangunan, penetapan daerah khusus yang dilindungi, dan lain-lain.

– Didukung Undang-undang No.5/1992 tentang Benda Cagar Budaya, yang menetapkan bahwa keseluruhan Benda Cagar Budaya dikuasai negara.

–  Dikeluarkan pula Surat Keputusan Gubernur KDH Ibukota Jakarta No. 575 tanggal 29 Maret 1993, tentang penetapan Bangunan-bangunan Bersejarah dan Monumen di Wilayah DKI Jakarta sebagai bangunan yang dilindungi.

A.3. Definisi Benda Cagar Budaya menurut Undang-undang:

Benda buatan manusia, bergerak, atau tidak bergerak, yang merupakan kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisanya, yang berusia sekurang-kurangnya 50 tahun, atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurang 50 tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

A.4. Asal Muasal Bangunan Bernama “Toko Merah”

Bangunan dua rumah dalam satu atap ini (dulu belum dinamai “Toko Merah” didirikan pada tahun 1730 oleh Gustaaf Willem Baron van Imhoff, Rumah ini disebut rumah kembar yang terbagi menjadi dua bangunan (sebelah utara dan sebelah selatan) dengan dua pintu.

Di masa itu, dia adalah tokoh pembaharu di berbagai bidang, yaitu: Bidang pertanian dan perkebunan (Mendatangkan petani maju dari Holland untuk mengembangkan pertanian dan perkebunan secara besar-besaran di Jawa Barat dan seputar Batavia untuk  mendukung perdagangan VOC), Bidang pendidikan (Membuka sekolah seminari dan mendirikan Academie de Marine di Batavia),  Bidang Pers dan Jurnalistik (Menerbitkan Koran pertama di Batavia, Bataviasche Nouveles), Bidang pos (Mendirikan Kantor Pos pertama di Batavia), Bidang perbankan (Perintis berdirinya Bank of Lenning, sebagai bank pertama di Batavia),   Bidang arsitektur (Mendirikan rumah tinggal yang megah (yang kemudian disebut Toko  Merah)  dan rumah peristirahatannya Buitenzorg (Istana Bogor), Bidang perhotelan (Membangun rumah penginapan pertama khusus buat orang asing yang datang ke Batavia).

Bangunan kembar (“Toko Merah”) didirikan Baron Van Imhoff sebagai rumah kediaman, saat dia menjabat sebagai Sekretaris II pada Hooge Regering (Pemerintahan Tertinggi)  merangkap Water Fiscaal (Kepala Urusan Pabean).

Dalam buku Nederlandsh Indische Plakaatboek (buku tentang keputusan-keputusan Pemerintah Hindia Belanda, 17 Januari 1786) tercatat:

Kedua rumah dibangun secara bersamaan dengan cita rasa sama, sesuai selera dan keinginan pemiliknya, tanpa campur tangan orang lain. Tidak saja besar, tetapi juga megah dan nyaman, berbeda dengan semua rumah lain yang ada di Batavia.

Baron van Imhoff  yang lahir pada 9 Agustus 1705, membangun rumah tersebut dalam usia 25 tahun. Biaya pembangunan yang mahal tidak menjadi masalah karena:

–          Dia adalah putera seorang bangsawan terpandang di Leer, Niedersachsen (Nederland), seorang ahli waris.

–          Memiliki koneksitas dengan kalangan pengambil keputusan di Batavia.

–          Menjadi menantu dari Direktur Perdagangan VOC, Anthony Huysman dan Johanna Chatarina Pelgrom ( setelah menikah dengan Chatarina Magdalena Huysman pada 5 April 1727, putri tunggal Anthony Huysman)

–          Karier Baron van Imhoff yang terus melejit, mempengaruhi tingkat pendapatan dan status ekonomi sosial.

Latar belakang pembangunan dua rumah di bawah satu atap ini, diduga:

–          Sebagai tempat tinggal keluarga Baron van Imhoff, dan untuk ibu mertuanya Johanna Chatarina, yang setelah suaminya meninggal harus angkat kaki dari rumah dinas perdagangan.

–          Dibangun secara patungan antara mantu dan mertua.

–          Kemungkinan memang rencana bersama, agar bisa hidup berdampingan antara menantu dan ibu mertua, dengan cara saling menghargai privacy dan kebebasan masing-masing.

–          Baron menempati bangunan sebelah utara, Johanna menempati bangunan sebelah selatan.

Tahun 1734:

Ibu mertuanya, Johanna Catharina Pelgrom meninggal dunia.

Rumah kembar di bagian selatan, tidak dihuni oleh siapa-siapa dan tetap dimiliki Baron van Imhoff.

Tahun 1736:

Baron van Imhoff diangkat menjadi Gubernur dan Direktur Perdagangan VOC di Ceylon (Sri Langka), sehingga dia harus meninggalkan Rumah Kembarnya. Tapi dia tetap mempertahankan rumah itu, kemungkinan rumah ini disewakan.

Tahun 1740:

Baron van Imhoff kembali ke Batavia dan tinggal di rumah kembarnya lagi.

Dia diangkat menjadi anggota Raad van Indie (anggota dewan penasihat), yang menentang banyak kebijakan Gubernur Jendral VOC, Adriaan Valckenier (sepupunya sendiri), terutama:

–          Kebijakan dalam upaya menangani ledakan populasi dan imigran warga China di Batavia. Baron pernah mengusulkan agar warga China yang pengangguran dikirim ke Ceylon, karena sering membuat kerusuhan di Batavia. Namun dalam pelaksanaannya Gubernur Jendral VOC Adriaan Valckenier bertindak ceroboh, sehingga warga China banyak yang memberontak, terjadilah pemberontakan.

–          Kebijakan dalam menghadapi kerusuhan dan pemberontakan warga China pada bulan Oktober 1740, yang populer disebut The Chinese Massacre atau The Chinese Moord.

Pada peristiwa ini sekitar 10.000 warga China tewas, termasuk 500 orang tahanan yang ada di dalam penjara Stadhuis (sekarang Museum Sejarah Jakarta) disembelih satu per satu, dan pasien rumah sakit.  Sebanyak 500 orang luka parah, 700 buah rumah rusak, banyak barang berharga hilang dirampok.

Usai pembantaian ini, banyak mayat ditumpuk di kawasan Meester Cornelis (Jatinegara), dalam sebuah rawa, sehingga dikenal sebagai Rawa Bangke.

Banyak orang China lari ke Tangerang, dan tinggal di tempat warga China bernama Ma Uk, sehingga tempat itu bernama Mauk.

Di tahun ini, warga China juga dilarang masuk Batavia, yang dikelilingi tembok dan parit  pertahanan kota. Mereka lalu bermukim di luar kota sebelah Tenggara, di atas tanah milik Arya Glitok, seorang bangsawan asal Bali, dan kini populer dengan nama Glodok. Juga ada yang lari ke Depok, yang kini dikenal dengan nama Pondok Cina.

Di tahun 1740 ini, anggota Majelis menuding Gubernur Jenderal VOC Adriaan Valckenier sebagai penanggung jawab peristiwa berdarah itu.

Tapi Valckenier balas menuding anggota Dewan Penasihat yang dianggapnya juga berperan aktif dalam segala tindakan pencegahan.

Pada 6 Desember 1740, Valckenier memerintahlan menangkap Baron van Imhoff dan dua penasihat lainnya, karena dianggap melawan perintah pembantaian berdarah itu.

Baron van Imhoff ditahan di dalam rumah megahnya sendiri di bawah pengawalan ketat serdadu kompeni, tanpa jabatan dan tanpa kekuasaan. Baron van Imhoff ditahan selama sebulan setengah.

Pada 15 Januari 1741, Baron van Imhoff dengan terpaksa harus meninggalkan rumahnya dan kembali ke Nederland untuk diadili.

Pada 15 Maret 1741, rumah kembar sebelah utara dijual dengan harga 10.000 ringgit kepada seorang pejabat pemerintah kota bernama Jan Hendrik Du Caylar, sedangkan sebelah selatan dibeli oleh Hugo Verijssel.

Pada 28 Mei 1743, Baron van Imhoff  kembali ke Batavia, setelah berhasil menangkis semua tuduhan yang dituduhkan. Dia kemudian diangkat menjadi Gubernur Jenderal VOC di Batavia, dan menempati Istana Gubernur Jenderal di dalam kastil Batavia.

Pada 18 Juli 1743, Baron van Imhoff membeli kembali sebagian rumah kembarnya di bagian utara dengan harga 14.000 ringgit. Sementara di bagian selatan tetap dihuni dan dimiliki Hugo Verijssel.

Baron tidak menempati rumah tersebut, melainkan mendirikan Kampus dan asrama  Academie de Marine, pada tanggal 7 Desember 1743

Academie de Marine merupakan pendidikan kadet untuk 4 tahun, dibatasi hanya 24 orang setiap angkatan. Mereka yang diterima di sini harus lahir dari perkawinan yang sah, berkelakuan baik, berumur 12-14 tahun, beragama Kristen protestan, dan pernah menjalani pelayaran minimal 6 bulan. Akademi ini tidak menerima golongan “inlander” atau pribumi.

Pada 1 November 1750, Baron van Imhoff meninggal dunia dan dimakamkan di halaman gereja Belanda Baru (kini museum wayang).

Di tahun ini juga, rumah kembar bagian Selatan menjadi rumah duka karena meninggalnya Presiden Kurator akademi ini, yang juga pemiliknya, Hugo Verijssel. Jandanya Sophia Francina Westpalm, masih menempati rumah ini hingga tahun 1760.

Pada 11 November 1755, Gubernur Jenderal VOC Jacob Mossel menutup akademi ini dan membeli rumah ini, serta menempatinya hingga tahun 1760. Maka berakhirlah riwayat dan fungsi rumah kembar sebagai Academie de Marine, dalam uisa hanya 12 tahun (1743-1755).

Seterusnya, rumah kembar ini berganti-ganti pemilik dari keturunan-keturunan orang Belanda yang menempati rumah ini sebelumnya.

Tahun 1786-1808

Seluruh bangunan disatukan menjadi Heerenlogement (Hotel). Selama 22 tahun  berfungsi sebagai hotel termegah di Batavia.

Baru pada tahun 1851-1920

Bangunan ini dimiliki warga China Oey Liauw Kong dan keturunannya, yang sejak itu berfungsi sebagai Toko, serta populer sebagai “Toko Merah”.

Warna tembok aslinya putih. Baru pada tahun 1923 oleh Direksi Bank voor Inde, tembok bangunan itu dicat dengan warna merah hati langsung pada permukaan batu bata yang tidak diplester.

Dsebut “Toko Merah” karena dulunya kusen pintu, jendela, plafon, tangga, bahkan mebel yang masih tersisa dari zaman VOC sudah memiliki corak warna merah hati yang hampir sama.

Tahun 1920

NV Bouwmaatschapij “Toko Merah”, memugar bangunan ini.

Bangunan ini pernah disewa Bank voor Indie dar tahun 1910 sampai tahun 1925.

Dalam akte tanah No. 957, No. 958 dan No. 959 tanggal 13 Juli 1920 disebutkan bahwa persil-persil ini milik NV. Bouwmaatschapij “Toko Merah”.

Tahun 1925-1934

Ditempati sejumlah Biro dan Kantor Dagang

Tahun 1934-1942

Pernah dinamai “Hoofd Kantoor Jacobson van den Berg”, karena pernah dimiliki dan digunakan sebagai kantor pusat perusahaan dagang NV. Jacobson van den Berg, salah satu dari perusahaan The Big Five milik Belanda.

Tahun 1942-1945

Gedung Dinas Kesehatan Tentara Jepang

Tahun 1945-1946

Ditempati oleh tentara gabungan Inggris-India

Tahun 1946

Kantor Dagang Nigeo-Eksport

Tahun 1946-1957

NV. Jacobson van den Berg

Tahun 1957-1961

PT Yudha Bhakti

Tahun 1961-1964

PN Fadjar Bhakti

Tahun 1964-1977

PT Satya Niaga

Tahun 1977-2003

PT Dharma Niaga

Tahun 2003 – kini

PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) dan Indonesia Trading Company.

“Toko Merah” kini  nama resmi dari Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta. Bahasa Belandanya Rode Winkel

B. ARSITEKTUR BANGUNAN

Letak bangunan sangat strategis, berada di kawasan jantung kota asli Batavia,  dekat dengan pusat pemerintahan VOC (Stadhuis), merupakan “Central Business District Batavia”. Saat itu sungai Ciliwung adalah urat nadi lalu lintas yang ramai. Wilayah Kali Besar ini Dikenal pula sebagai salah satu wilayah hunian elit di dalam kota Batavia.

B.1. Gaya Boer

Bangunan “Toko Merah” dibangun di atas areal seluas 2.455 m2. Luas sebelumnya 2.472 m2 (terkena pelebaran jalan).

Corak dan ciri bangunan cenderung mencontoh bangunan-bangunan di negeri Nederland, atau bergaya “Boer”. Rata-rata bertingkat dua atau tiga, letaknya saling berhimpitan, tanpa halaman depan dan samping. Kesannya polos dan kaku.

Atap bangunan menjulang tinggi dan curam sebagai penahan panas terik matahari untuk ruang di tngkat atas. Atap untuk bagian depan dibuat menjorok ke luar agar menjadi pelindung dari hujan dan panas.

Pintu dan jendela berbentuk persegi panjang, berukuran besar, jumlahnya banyak.

Ruangan dalamnya luas dan memiliki langit-langit yang tinggi. Tapi karena letaknya berhimpitan, maka bagian dalam ruangan terasa pengap, suram, dan lembab. Tipe bangunan ini sebenarnya tidak cocok untuk daerah tropis.

Dari depan, bangunan “Toko Merah” tampak bertingkat dua, tapi di bangunan belakangnya ternyata bertingkat tiga.

Denah bangunan berbentuk huruf “H”, dan bagian depan bangunan bersatu dengan trotoar.

Kaki bangunan “Toko Merah” berdiri di atas sebuah pondasi masif berdenah persegi panjang dengan keseluruhan bagian atas kaki dilapis lantai marmer. Marmer ini berwarna putih abu-abu berukuran 75 cm x 70 cm

B.2. Rumah Kembar Fungsional

Bangunan “Toko Merah” dibangun meniru gaya arsitektur Eropa, dengan paham “fungsionalisme”. Tidak menggunakan ornamen yang rumit dan berbelit-belit.

Bergaya luas, tanpa pilar-pilar, sehingga memungkinkan bangunan  bisa berubah fungsi apa saja. Sebuah perpaduan bangunan Cornice House (bangunan dengan dinding muka yang ujung atasnya datar dan diberi profil-profil pengakhiran) pada abad ke-18 dan atap tropis, juga memiliki parapet atas dan parapet bawah.

Terdiri dari dua bangunan utama yang berada di bawah satu atap, bangunan sebelah utara dan sebelah selatan. Dengan adanya parapet pemisah, maka jika terjadi kebakaran tidak akan sampai menjalar ke bangunan di sebelahnya.

Tempok depan bangunan  terbuat dari susunan batu bata yang tidak diplester lagi, dan baru ditambahkan pada pemugaran rumah pada tahun 1923 oleh Direksi Bank Voor Inde, karena sebelumnya tembok rumah itu dicat putih. Warna asli batu bata dicat dengan warna merah hati ayam.

Nama “toko merah” itu sendiri diperoleh dari kusen dan jendela yang dulunya sudah dicat merah hati dengan sedikit cat emas yang memberi nuansa ke-Tionghoa-an pada rumah ini, mengingat dulu meubeulnya pun memiliki warna yang sama. Sejak tahun 1840, unsur warna khas arsitektur China “merah” mulai mempengaruh bangunan ini.

B.3. Pintu Rococo Tunggal

“Toko Merah” memiliki dua buah pintu masuk berukuran besar dan tinggi. Pada bagian atas pintu masuk terdapat jendela angin yang berada pada satu kusen dengan pintu. Polanya berbentuk kotak-kotak, masing-masing memiliki 30 buah kotak.

Saat ini hanya pintu masuk bangunan selatan yang berfungsi, sedangkan pintu bangunan utara terkunci mati. Kusen pintu dan jendela dicat warna merah hati.

Ukuran pintu 3,05 m x 1,8 m, dengan ukuran jendela anginnya 1,9 m x 1,8 m.

Perlu dicatat, pintu masuk utama bangunan utara “Toko Merah” bukan pintu asli. Pintu aslinya dengan fanlight (lubang jendela di atas pintu yang bagian atasnya cenderung lengkung) dan terukir artistik dibongkar pada tahun 1901 dan dibawa ke Museum Pusat dan kini mash berada di ruang Numismatik Museum Pusat Jakarta.

Di belakang pintu masuk rumah sebelah utara terdapat sebuah pintu kedua yang menuju ke ruangan dalam, ini satu-satunya pintu dengan bagian atas berbentuk arch (busur melengkung) gaya rococo dengan hiasan plester. Pintu ini berukuran 2,38 m x 2,3 m, berdaun pintu ganda, terbuat dari kayu dan kaca, dengan bingkai kayu warna merah hati dan garis keemasan.

B.4. Jendela “Naik Turun”

Bagian depan bangunan “Toko Merah” ini  terpasang 10 jendela.

Pada lantai dasar, terpasang 4 jendela yang mengapit dua pintu masuk.

Pada lantai atas terpasang 6 jendela. Semuanya berbentuk persegi panjang,

Jendela ini menerapkan gaya abad ke-18 dan berskala monumental untuk mengimbangi ruangan-ruangan besar di dalamnya. Polanya hanya kotak-kotak. Cara membukanya ada dua tipe:

Tipe pertama, sistem jendela geser ke atas. Lazim dsebut sliding sashs, dibuka tutupnya naik turun. Yang dapat digerakkan hanya jendela pasangannya di bagian bawah.

Tipe kedua, sistem jendela dorong keluar. Sistem ini terdapat di ruang bawah tanah bangunan sebelah utara dan sebelah selatan.

B.5. Tangga Lingkar Antik

Untuk naik ke lantai atas bangunan, tersedia 6 buah tangga, semuanya terbuat dari kayu yang terukir artistik dan dicat merah hati.

Pada bangunan depan rumah bagian selatan, terpasang sebuah tangga menuju lantai atas, dengan posisi agak melingkar. Tangga ini terdiri dari tiga bagian dengan seluruh anak tangga berjumlah 24 buah.

Pada bagian belakang ruang tengah, di kiri kanan, masing-masing ada tangga dengan 20 buah anak tangga. Juga terbuat dari kayu berukir, yang terhubung dengan balkon di lantai dua. Tapi dari ukirannya jelas terlihat bahwa ukirannya bukanlah asli, melainkan dibuat pada saat gedung ini menjadi kantor pusat NV. Jacobson van de Berg. Tangga yang asli ada di Museum Pusat.

Di lantai dua gedung belakang hanya terdapat sebuah tangga dengan 8 anak tangga yang menuju lantai dua bangunan tengah.

Sedangkan untuk menuju lantai tiga, baik di sebelah selatan maupun utara, terdapat sebuah tangga dengan 7 anak tangga.

Dari lantai tiga, masih ada sepasang tangga menuju atap gedung dengan 17 anak tangga.

B.6. Atap Rumah Kampung

Bangunan ini memiliki tiga buah atap. Bangunan depan dan belakang memiliki atap dengan bubungan yang memanjang dari utara ke selatan. Sementara atap bangunan tengah, bubungan atapnya melintang dari timur ke barat, sekaligus merupakan atap penghubung bagi kedua atap bangunan depan dan belakang. Atap bangunan ini berbentuk atap pelana atau atap rumah kampung.

B.7. Ruang-ruang Toko Merah

Di lantai dasar terdapat 16 buah kamar, 8 ruang di bagian utara, 8 ruang di bagian selatan.

Di lantai dua, terdapat 4 buah kamar

Di lantai tiga, terdapat 5 buah kamar.

Pembagian ruang-ruang itu berfungsi sebagai:

ruang depan, kamar, bangsal, halaman depan, tangga, kamar belakang untuk para budak, portal, kamar tidur utama, serambi belakang, kantor, halaman belakang, gudang, serambi depan, dapur, bangunan tambahan, instal kuda, kamar kereta kuda, tempat memasang kuda.

Abstrak Representasi Permainan Tradisional Congklak dalam kajian Semiotika (Roland Barthes)

Congklak dengan berbagai versi desain

Abstrak

Representasi Permainan Tradisional Congklak dalam kajian Semiotika (Roland Barthes)

Istilah permainan dari kata dasar main. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kedua, arti kata main adalah melakukan permainan untuk menyenangkan hati atau melakukan perbuatan untuk bersenang-senang baik menggunakan alat-alat tertentu atau tidak menggunakan alat. Nampak berdasarkan pengalaman sejarah mengenai permainan tradisional yang ada di Indonesia, terdapat permainan yang di sebut dengan dhakon atau congklak. Asal mula permainan dhakon, umumnya yang tersebar di pedesaan, melakukan permainan dengan membuat lubang – lubang pada permukaan tanah disebabkan kerterbatasan perekonomian pada pedesaan. Karena konon permainan dhakon atau congklak pada zaman dahulu hanya dimainkan oleh kalangan kerajaan.
Congkak adalah suatu permainan tradisional yang dikenal dengan berbagai macam nama di seluruh Indonesia. Biasanya dalam permainan, sejenis cangkang kerang digunakan sebagai biji congklak dan jika tidak ada, kadangkala digunakan juga biji-bijian dari tumbuh-tumbuhan.
Di Malaysia permainan ini lebih dikenal dengan nama congkak dan istilah ini juga dikenal di beberapa daerah di Sumatera dengan kebudayaan Melayu. Di Jawa, permainan ini lebih dikenal dengan nama congkak, dakon, dhakon atau dhakonan. Selain itu di Lampung permainan ini lebih dikenal dengan nama dentuman lamban sedangkan di Sulawesi permainan ini lebih dikenal dengan nama Mokaotan, Maggaleceng, Aggalacang dan Nogarata. Dalam bahasa Inggris, permainan ini disebut Mancala.
Permainan congkak dilakukan oleh dua orang. Dalam permainan mereka menggunakan papan yang dinamakan papan congkak dan 98 (14 x 7) buah biji yang dinamakan biji congkak atau buah congkak. Umumnya papan congkak terbuat dari kayu dan plastik, sedangkan bijinya terbuat dari cangkang kerang, biji-bijian, batu-batuan, kelereng atau plastik. Pada papan congkak terdapat 16 buah lobang yang terdiri atas 14 lobang kecil yang saling berhadapan dan 2 lobang besar di kedua sisinya. Setiap 7 lobang kecil di sisi pemain dan lobang besar di sisi kananya dianggap sebagai milik sang pemain.
Pada awal permainan setiap lobang kecil diisi dengan tujuh buah biji. Dua orang pemain yang berhadapan, salah seorang yang memulai dapat memilih lobang yang akan diambil dan meletakkan satu ke lobang di sebelah kanannya dan seterusnya. Bila biji habis di lobang kecil yang berisi biji lainnya, ia dapat mengambil biji-biji tersebut dan melanjutkan mengisi, bisa habis di lobang besar miliknya maka ia dapat melanjutkan dengan memilih lobang kecil di sisinya. bila habis di lubang kecil di sisinya maka ia berhenti dan mengambil seluruh biji di sisi yang berhadapan. Tetapi bila berhenti di lobang kosong di sisi lawan maka ia berhenti dan tidak mendapatkan apa-apa.
Permainan dianggap selesai bila sudah tidak ada biji lagi yang dapat dimabil (seluruh biji ada di lobang besar kedua pemain). Pemenangnya adalah yang mendapatkan biji terbanyak. Permainan congklak merupakan permainan tradisional dari adat Jawa. Menurut sejarah permainan ini pertama kali dibawa oleh pendatang dari Arab yg rata-rata dating ke Indonesia untuk berdagang atau dakwah. Pada umumnya jumlah lubang keseluruhan adalah 16,yang dibagi menjadi tujuh lubangkecil dan satu lubang untuk masing-masing pemain. Lubang tujuan merupakan lubang terkiri (biasanya diameternya lebih besar). Skor kemenangan ditentukan dari jumlah biji yg terdapat pada lubang tujuan tersebut.

Adapun cara permainan dhakon yang dapat dilakukan. Salah satunya wadah congklak atau dhakon terdiri dari cekungan setengah lingkarn yang berjumlah 14 buah. Banyaknya lubang pada papan congklak umumnya ganjil dan dimulai dari 5 lubang, 7 lubang, 9 lubang. Jika kuwuk terakhir jatuh ke cekungan besar-besar miliknya maka ia dapat memulai lagi mengambil dan menebarkan kuwuk atau biji dhakon milikinya. Sebaliknya, jika kuwuk terakhir jatuh ke lubang lawan maka akan gugur.
Permainan dhakon atau congklak umumnya dimainkan oleh anak perempuan yang berumur 5 sampai dengan 15 tahun. Adakalanya ibu-ibu senang memainkannya, dimainkan pada waktu senggang.
“Assuming that all forms of culture construct and deconstruct social identities and social relations, cultural globalization raises important and controversial issues concerning its effects on national and local cultures and their responses to it”.
Dengan asumsi bahwa segala bentuk budaya membangun dan mendekonstruksi identitas sosial dan hubungan sosial, budaya globalisasi mengangkat isu-isu penting dan kontroversial mengenai dampaknya pada budaya lokal dan nasional dan tanggapan mengenai sesuatu hal tersebut.
Dengan menggunakan kajian semiotika, adalah Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkji tanda. Tanda-tanda alah perangkat yang kita pakai dalam upaya berusaha mencari jalan di dunia ini, di tengah-tengah manusia bersama-sama manusia. Dalam kaitannya antara kajian semiotika dan fenomena permainan dhakon atau congklak terletak pada representasi sebuah dhakon yang di zaman globalisasi, saat ini telah menjadi budaya global yang di awali adanya budaya lokal dan berkembang menjadi sebuah icon (lambang).
Tidak terlepas dari kajian Semiotika, atau dalam istilah Barthes, semiologi, pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memakai hal-hal (thinks). Dalam teori mitologinya Barthes mengemukakan bahwa mitos adalah sebuah bentuk tuturan yang menggunakan sistem tanda tingkat kedua.
Pada permainan dhakon atau congklak, dengan menghkaji menggunakan kajian semiotika berdasarkan Barthes, terdapat unsur sebuah mitos yang terkandung di dalam pemaknaan bentuk dan pewarnaan permainan congklak,. Pemaknaan hewan naga yang di simbolkan untuk setiap sisi kanan dan kiri pada badan congklak. Selain itu, nampak pewarnaan yang bervariasi, tentunya memiliki makna yang tersirat dan di olah di tahap pertama (petanda). Setelah melakukan kajian melalui tahap penanda (yang dapat dilihat) dan berdasarkan petanda (secara tersirat atau makna kiasan) maka akan muncul sebuah mitos di balik pemaknaan objek (congklak).
Sehingga dengan melalui proses pengkajian Semiotika secara barthes, maka dapat disimpulkan : Apakah mitos yang terbentuk dari sebuah permainan tradisonal congklak atau dhakon?

Penanda
(Langue) Petanda
(Langue)
Tanda Penanda (mitos)
Tanda Petanda (Mitos)
Tanda (Mitos)
Tabel Semiotika menurut Roland Barthes

Representasi Ramping Tanpa Efek Samping Pada Iklan Impressions

Pendahuluan

a. Latar belakang
Permulaan komunikasi yang baik adalah seorang komunikator dapat menyampaikan dengan baik pesan yang ingin disampaikan kepada komunikan melalui media sehingga terwujudnya suatu komunikasi dua arah. Seperti yang terjadi pada iklan-iklan di media cetak misal ; majalah, surat kabar, papan iklan billboard, brosur atau media elektronik seperti iklan pada televise, radio dan website internet.
Perkembangan dunia iklan di era globalisasi semakin pesat dan persaingan pasar kalangan produsen pun kian meningkat seiring teknologi yang kian maju. Periklanan memasuki masa dimana persaingan pasar dunia industri semakin ketat sehingga diperlukan teknik dan bentuk periklanan yang mendasarkan diri pada strategi periklanan yang sesuai. Media digunakan sebagai sarana penyampaian pesan komunikator kepada komunikan dengan tujuan visi dan misi dapat diterima oleh konsumen.
Pada budaya modern atau budaya global saat ini, umumnya menggunakan profil perempuan sebagai model atau objek dari pesan sebuah iklan yang ingin disampaikan oleh produsen. Terkadang posisi perempuan pada setiap iklan mempunyai situasi yang tidak tepat untuk ditampilkan di media. Profil perempuan dengan menggunakan pakaian yang minim atau vulgar, dapat menimbulkan persepsi yang kurang baik pad konsumen atau masyarakat.
Di media massa citra perempuan terasa “meriah”, mulai dari cover majalah, pajangan utama infotainment, iklan televise sampai berita-berita yang berkenan dengan perempuan (produsen dan pembuat iklan yang membuat produknya ditujukan kepada perempuan). Seorang perempuan yang berpose dengan pakaian yang seksi dan minim memperlihatkan lekukan tubuhnya, sehingga menjadikan suatu representasi dari pola pikir perempuan tentang tubuh yang ideal adalah layaknya seorang model seperti yang tertampil di media massa dan muncul keinginan untuk dapat memilikinya.
Fenomena estetika dalam iklan dengan menggunakan sistem penandaan berupa figur perempuan, dengan mengedepankan pada wilayah eksploitasi daya tarik tubuh. Kesadaran akan gender akan membantu perempuan keluar dari penindasan yang terjadi di budaya popular sekarang ini berupa representasi dan eksploitasi tubuh di media. Begitu gencarnya provokasi, mulai dari para perempuan remaja sampai pada ibu rumah tangga tengah baya yang mengukur dirinya dengan prototipe (bentuk tubuh ideal) wanita cantik yang diciptakan oleh iklan-iklan di majalah, televise, dan papan billboard dsb. Hal ini menjadi semakin berkembangnya klinik-klinik kecantikan dan pelangsing tubuh.
“Periklanan menurut institute praktisi periklanan Inggris oleh tokohnya bernama Frank Jefkins adalah Periklanan merupakan dasar pesan-pesan penjualan yang paling persuasive yang diarahkan kepada calon pembeli yang paling potensial atas produk barang atau jasa tertentu dengan biaya yang semurah-murahnya”.
Media cetak erat kaitannya dengan iklan-iklan di dalamnya sebagai bentuk sarana atau cara untuk menyampaikan pesan kepada konsumen melalui media salah satu medianya adalah majalah. Menggunakan majalah Cosmopolitan sebagai media cetak dikenal masyarakat sejak tahun 1980-an. Penempatan produk iklan Impressions (Body Care Centre) di majalah Cosmopolitan merupakan, bagian yang saling berhubungan antara media dengan isi pesan iklannya. Cosmopolitan dengan slogan “Fun Fearless Female”, dijelaskan bahwa majalah Cosmopolitan hanya diperuntukkan bagi perempuan yang memiliki gaya hidup modern dan senang dengan perkembangan dunia fashion international.
Pada pemunculan iklan di media cetak, masing-masing memiliki representasi pesan yang akan diberikan atau disajikan kepada konsumen. “Berdasarkan perkembangan sejarah, bahasa dapat dibedakan menjadi, bahasa tulis, bahasa lisan dan bahasa simbolis”. Tentunya setiap tulisan, perkataan atau bahkan simbol dan lambang mempunyai makna tertentu yang mengandung sebuah arti dari isi pesan yang akan disampaikan. Begitu halnya dengan iklan khususnya iklan Print Add dan papan iklan atau billboard, membawa pesan dari produsen yang ditujukan kepada khalayak melalui kata-kata, simbol, lambang yang akan diterima melalui pemahaman masing-masing khalayak yang berbeda.
b. Perumusan Masalah
Pada penampilan iklan melalui representasi tubuh perempuan, menimbulkan controversial terhadap tayangannya. Penulis memfokuskan permasalahan pada produksi tanda, makna dan makna dari isi pesan yang akan disampaikan produsen melalui iklannya yaitu Impressions (Body Care Centre) dan memberikan slogan “Ramping Tanpa Efek Samping”. Dengan mendeskripsikan secara denotasi dan konotasi (dibalik makna konotasi tersembunyi sebuah mitos).
Didukung dengan melihat, representasi dari sudut pandang produsen yang memilih tubuh perempuan dengan pakaian seksi dan minim dan diikuti posisi tubuh yang sensual dengan lekukan tubuh yang ramping.
Adapun permasalahan yang akan muncul dari penelitian mengenai “Representasi (Ramping Tanpa Efek Samping) dalam iklan Impressions pada majalah Cosmopolitan Indonesia, antara lain :
1. Apa saja yang digunakan sebagai sistem penandaan dalam iklan Impressions berdasarkan penggunaan tanda-tanda verbal dan non verbal?
2. Bagaimana representasi yang digunakan antara pihak produsen dalam iklan Impressions pada majalah Cosmopolitan Indonesia?
3. Bagaimana makna yang dibawa dari simbol atau lambang dari tanda yang digunakan pada iklan Iklan Impressions?
4. Bagaimana mitos yang terbentuk pada iklan pelangsing dan perawatan tubuh “Impressions”?
c. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian dilakukan untuk mengetahui :
1. Mendeskripsikan pesan dan makna yang dibawa oleh iklan Impressions dibalik penggunaan tanda “Ramping Tanpa Efek Samping” , simbol atau lambang dan tanda-tanda verbal maupun non verbal.
2. Mengetahui makna yang digunakan berdasarkan simbol atau lambang dan tanda pada iklan Impressions Versi Diah Puspitasari.
3. Mengetahui hubungan antara penanda iklan Impressions dengan majalah Cosmopolitan Indonesia.
d. Kegunaan Penelitian
1. Kegunaan Teoritis
Dengan penelitian ini, memerlukan suatu teori sebagai landasan dalam membedah sebuah fenomena yang terjadi pada budaya global, memaknai teknologi adalah cara praktis untuk mendapatkan sesuatu yang instant. Sehingga secara teoritis, penulis dapat mengetahui makna yang ditampilkan dari iklan Impressions.
2. Kegunaan Praktis
Melalui penelitian ini, diharapkan dapat memberikan saran yang membangun kepada pihak agency periklanan untuk menciptakan iklan dengan menampilkan sosok perempuan pada iklannya menjadi semakin baik dari penggunaan simbol atau lambang dan makna yang terkandung didalamnya.

Objek Kajian

a. Iklan sebagai susunan Tanda-tanda
Kegiatan iklan merupakan sebagai bentuk kegiatan yang dilakukan melalui pesan komunikasi yang bersifat persuasive (membujuk) disampaikan oleh pengirim pesan kemudian untuk diterima oleh komunikan dengan menggunakan berbagai macam tanda dan simbol komunikasi. Makah al ini tanda-tanda yang disusun dalam sebuah teks iklan yang menghadirkan adanya sebuah makna tertentu pada khalayak atau konsumen.
Tiga macam hubungan tanda, antara lain “hubungan simbolik untuk menunjuk hubungan antara signifier dan signified, hubungan paradigmatik untuk hubungan internal dalam suatu tanda.” Keterkaitan antara petanda dan penanda memiliki makna yang tercipta dibalik isi pesan iklan yang ditampilkan. Jika dibedah secara menyeluruh melalui petanda dan penanda yang dibawa oleh iklan Impressions, nampak adanya pemisahan antara makna petanda dan penanda.
Berbagai tanda digunakan sebagian menyatakan realitas sesungguhnya, hal tersebut berhubungan erat dengan tujuan pengiklan. Berbagia tanda yang digunakan kreator iklan, umumnya adalah tanda yang mempunyai daya tarik kuat terhadap khalayak sasaran serta disesuaikan dengan kebutuhan produk atau jasa akan citra tertentu yang ingin dibangun oleh pengiklan. Suatu penanda tanpa petanda tidak berarti apa-apa dan karena itu tidak merupakan tanda. Sebaliknya, suatu petanda tidak mungkin disampaikan atau ditangkap lepas dari penanda, petanda atau yang ditandakan itu termasuk tanda sendiri dan dengan demikian merupakan suatu faktor linguistik.
Pemunculan perempuan sebagai lambang dari suatu tanda dalam pesan yang ingin disampaikan kepada khalayak menjadi sebuah persepsi yang berbeda dari masing-masing individu. Representasi atau penggambaran atau perwakilan dari sebuah objek yang dituju akan menjadi serasi makna jika diikuti dengan pemberian isi pesan dalam bentuk non verbal atau uraian kata-kata tulisan yang dicetak.
Sehingga keseluruhan tampilan dalam suatu objek gambar dapat tersampaikan dengan baik untuk konsumen melalui susunan tanda-tanda, lambang dan tulisan yang disatukan dalam kesatuan sebuah iklan pada Impressions (Body Care Centre).
b. Pencitraan Perempuan Sebagai Tanda dalam Media Cetak
Figur perempuan dalam media diyakini sebagai tanda dan simbol pesan yang sering digunakan di berbagai kesempatan dalam melakukan iklan untuk menyampaikan pesan iklan kepada khalayak. Melalui penandaan perempuan dalam media berupaya pesan dapat diterima oleh pembaca atau khalayak. “Perbincangan tentang perempuan tidak dapat dilepaskan dari semangat gerakan feminisme”.
Tidak dapat dipisahkan antara kebutuhan produsen dan pengiklan dalam memproduksi sebuah iklan produk, sukar rasanya memisahkan jika kontroversial pencitraan tubuh wanita masuk ke sebuah pemaknaan iklan , karena keduanya memiliki ketergantungan satu sama lain. Produsen telah memproduksi sebuah inovasi ditujukan bagi perempuan yang ingin memiliki tubuh ideal dan ramping, sedangkan produsen tersebut sebagai klien dari pengiklan. Maka pihak produsen dan pengiklan mempunyai keputusan untuk merepresentasikan produknya pada iklan dengan menggunakan sosok selebritis entertainment terkenal bernama Diah Puspitasari yang dikenal telah memiliki dua anak dan tetap memiliki tubuh ideal tanpa timbunan lemak.
Sehingga masyarakat khususnya kaum ibu rumah tangga merepresentasikan tubuh yang ideal dan ramping layaknya seperti Selebritis Diah Puspitasari. Disinilah pencitraan muncul sebagai asumsi masyarakat yang diterima dari pesan iklan Impresssions dan tampilan iklan cetak yang berhasil masuk dalam benak masyarakat bahwa prototipe yang diberikan oleh pengiklan melalui media cetak tersebut.
Citra perempuan di dalam media massa masih memperlihatkan dengan yang buruk dan merugikan perempuan. Hal ini dapat dilakukan dengan mensosialisasikan masalah kesetaraan gendar kepada masyarakat luas yang masih kurang sadar akan kesetraan gender. “Kesadaran akan gender akan membantu perempuan keluar dari penindasan yang sekarang ini berupa eksploitasi tubuh di media”.
Citra perempuan dalam sebuah iklan diposisikan terdepan dibandingkan iklan dengan penempatan pria dalam iklan tersebut. Hal ini merujuk pada cara produksi cultural maupun berbagai representasi atau penggambaran media yang mengabaikan, mengesampingkan, memarjinalkan atau meremehkan kaum perempuan beserta kepentingan mereka. Banyak dijumpai di media cetak atau elektronik mengedepankan citra perempuan di setiap iklan sebagai objek yang dapat menjual atau mendongkrak tinggi nilai pasar atau rating penjualan melalui tampilan iklan yang menarik khalayak. “Anihilasi simbolis perempuan” dipraktikan oleh media massa berfungsi menegaskan peranan istri, ibu, ibu rumah tangga dan sebagainya, merupakan takdir perempuan dalam sebuah masyarakat patriakal. Pergesaran pun terjadi mengikuti budaya global atau popular culture dengan adanya metode pelangsingan tubuh khusus untuk para ibu-ibu pasca melahirkan atau para wanita yang mendambakan tubuh ideal.

c. Representasi Tubuh Perempuan dalam Iklan Cetak
Dalam media cetak yang muncul adalah sosok perempuan terutama pada iklan Impressions yang memberikan nuansa pemaknaan kepada masyarakat bahwa jika ingin memiliki dengan cara praktis dan tanpaefek samping, konsumen dapat menghungin pihak produsen “Impressions”.
Disanalah sebuah representasi telah terbentuk dan tubuh yang ideal saat ini digemari para perempuan modern dengan melihat iklan Impressions, maka masyarakat perempuan pun mewakili penggambaran tentang tubuh yang ideal seperti di dalam iklan Impressions pada majalah Cosmopolitan Indonesia.
Salah satu bidang utama budaya popular yang telah menarik perhatian kaum feminis adalah iklan dan representasi perempuan di dalamnya. Keberadaan objek perempuan di setiap iklan, telah mewakili dari sejumlah produk – produk kecantikkan, kebutuhan rumah tangga dan sebagainya. Dapat kita lihat, berbagai penawaran produk – produk khusus wanita atau bahkan produk yang diperuntukkan bagi pria bahkan seringkali menggunakan objek perempuan dalam penampilan iklan tersebut.
Penggambaran sosok perempuan dalam iklan di media cetak atau media elektronik biasanya dengan usia yang belia, tubuh yang ideal (langsing), berwajah cantik dan menarik, memiliki rambut panjang dan lurus dan sebagainya. Selain tampilan perempuan dalam kebutuhan kecantikkan, saat ini iklan – iklan turut menghadirkan dan menempatkan kedudukan perempuan dalam iklan khusus pria yang menggunakan pakaian minim sebagai daya tarik dari iklan tersebut.
Representasi yang hadir akan semakin meluas jika kedudukan perempuan dalam iklan di media cetak atau media elektronik dan dapat berdampak bagi persepsi khalayak mengenai kehadiran perempuan di setiap objek iklan baik iklan bagi perempuan maupun pria.

Metode Penelitian

Metode peneltian yang digunakan adalah penelitian kualitatif melalui deskripsi analisis dan melakukan wawancara secara mendalam untuk mengetahui lebih meluas objek yang akan dikaji. Untuk penelitian iklan Impressions ini, penulis menggunakan metode yang diterapkan oleh Roland Barthes yakni analisis dengan sistem pertandaan bertingkat yang dikenal dengan signifikasi dua tahap.
Membahas sebagian besar dengan menunjukkan bagaimana aspek denotatif tanda-tanda dalam budaya pop menyikapkan konotasi yang pada dasarnya adalah “mitos-mitos yang dibangkitakn oleh sistem tanda yang lebih luas. Menurut Barthes, “bahasa membutuhkan kondisi tertentu untuk dapat menjadi mitos”.
Penanda
(Langue) Petanda
(Langue)
Tanda Penanda (mitos) Tanda Petanda (Mitos)
Tanda (Mitos)

Tabel Semiotika menurut Roland Barthes

Seperti yang dikutip Alex Sobur dan Jansz mengatakan :
“Barthes menganalisis iklan berdasarkan pesan yang dibawanya, yaitu (1) Pesan Linguistik berupa semua kata dan kalimat di dalam iklan; (2) Pesan Ikonik yang terkodekan berupa konotasi yang muncul dalam foto iklan. Yang dapat berfungsi jika dikaitkan dengan sistem tanda yang lebih luas dalam masyakarat dan (3) Pesan Ikonok tak terkodekan yaitu denotasi dalam foto iklan”.
Pengkajian yang menjadikan iklan cetak Impressions (Body Care Centre) memfokuskan pada penggunaan tanda berikut makna yang berkaitan antara representasi yang dihadirkan dalam gambar dengan mitos yang berkembang secara sosio – kultural atas persepsi tubuh ideal bagi perempuan.
Selain yang disebut mengenai metode yang digunakan adapun penulis menggunakan paradigm kritis sebagai paradigm penelitian. Melalui paradigm ini, peneliti diharapkan dapat “merumuskan apa yang harus dipelajari, persoalan-persoalan yang harus dijawab, aturan – aturan yang harus diikuti dalam menginterpretasikan informasi yang dikumpulkan dalam rangka menjawab persoalan-persoalan yang akan dibahas”.

First Order Second Order

Reality Signs Culture
Denotasi Signifier Form, Connotation
Signified
Content Myth
Sumber : Alex Sobur, Analisis Teks Media, hal. 128
(PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2004)

“Siginifikasi tahap pertama merupakan hubungan antara signifier dan signified di dalam sebuah tanda terhadap realitas eksternal, yang disebutnya sebagai denotasi yaitu makna paling nyata dari tanda, konotasi digunakan sebagai signifikasi yang kedua yaitu interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta nilai – nilai kebudayaan yang dianutnya”.

Analisis Data

a. Deskripsi Iklan Pelangsing Tubuh Impressions (Body Care Centre)
Dengan menggunakan objek iklan Impressions (Body Care Centre) yang bertujuan membongkar melalui representasi tubuh perempuan yang digambarkan dalam iklan cetak tersebut. Penggunaan modelperempuan dalam iklan tersebut adalah seorang selebritis ternama di Indonesia yang bernama Diah Permatasari dengan segudang perannya sebagai bintang film Indonesia.
Sejarah perusahaan Impressions, kehadiran di Indonesia pada November 18,1993 di Jakarta dan dalam waktu kurang dari 10 tahun berkembang menjadi 50 studio di seluruh Indonesia. Program detoksifikasi yang diperkenalkan Impressions adalah hasil penelitian dari DR. MH. Christoper penelitian, herbal terkemuka ahli dari amerika serikat. “Impressions Body Care centre” atau dalam bahasa Indonesia “Impressions Pusat kebugaran Raga” adalah tempat perawatan tubuh bagi mereka yang mempunyai problem baik dengan kesahatan tubuh, berat badan berlebihan, bentuk tubuh atau perawatan tubuh lainnya. Itulah sebabnya dalam bahasa Indonesia kami menyebut dengan pusat kebugaran raga dan bukan pusat perawatan tubuh walaupun sering ditafsirkan salah oleh masyarakat yang menerima Impressions adalah sanggar senam, aerobic atau fitmess.
Adapun visi dan misi dari perusahaan adalah ;
“Visi adalah membuat orang mencapai yang terbaik dalam kecantikan dan kesehatan. Sedangkan misi Impressions adalah memberikan produk dan perawatan kecantikan terbaik, berfokus pada kebaikan dan kepuasan pelanggan yang menyeluruh dengan meningkatkan kesehatan mereka, menyediakan tempat yang menyenangkan, mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan teknologi paling mutakhir dan membangun hubungan antar pribadi yang tulus”.

Sumber : Majalah Cosmopolitan
Edisi Januari 2010

Sumber : http://www.impressions.co.id/
b. Analisis tahap pertama : Denotasi
Pada tahap pertama akan dilakukan analisis melalui isi pesan dan makna yang terlihat pada iklan. Adapun dalam tampilan iklan ini, terdapat pemaknaan tingkat Signifier (terdiri atas gambar atau pesan non verbal) dan tingkat Signified atau makna pesan dapat dipahami secara utuh (makna dan isi pesan atau pesan verbal). Tampilan pada iklan ini, terdiri dari gambar (dengan sikap tubuh model Devi Permatasari dan Maia), logo perusahaan headline, naskah iklan, box dan panel.

Gambar 1
(Gambar diperoleh dari sumber Majalah Comopolitan)
Untuk pemaknaan tingkat Signifier menampilkan sosok model bernama Devi Permatasari dengan bentuk tubuhnya setelah melakukan perawatan dan telah menjalani program dengan menjadi pelanggan dari salah satu produk dari Impressions dan sukses melalui program perawatan tubuhnya. Devi Permatasari divisualisasikan dengan rambut yang panjang dengan style hair ala wanita metropolitan di zaman modern saat ini (rambut diwarnai dan diberi sentuhan rambut bergelombang “curly” layaknya tren masa kini yakni masa modern). Diikuti kedua tangannya diletakkan dibagian kantong pakaiannya dan kaki kanan sedikit diangkat (menyentuh kaki sebelah kirinya) dengan menggunakan pakaian minim berwarna hitam.

Gambar 2
(Gambar diperoleh melalui website perusahaan Impressions Body Care Centre)
http://www.impressions.co.id/

Berbeda halnya dengan gambar di atas, yang diperagakan oleh model yang berprofesi sebagai penyanyi dan musisi terkenal bernama Maia Estianty. Yang mengenakan pakaian berwarna merah muda dan sepatu berhak tinggi berwarna silver. Dengan senyumnya yang khas diikuti dengan letak kedua tanggannya yang sebelah kanan berada dipinggang dengan mengarah ke belakang tubuh sedangkan tangan kirinya seakan menyentuh pakaian dress yang seakan diangkat mengarah kesebelah kiri. Untuk sikap tubuhnya, kaki kirinya terlihat menyentuh kaki kanan dan sedikit nampak mengangkat kaki kirinya.
Penampilannya dengan rambut pendek memberikan sentuhan yang berbeda terhadap gaya rambut modern saat ini, namun terlihat pada gambar Maia tetap member sentuhan rambut yang diwarnai dibagian depan rambut. Gaya tatanan modern ditampilkan oleh Maia meskipun ukuran rambutnya tidak panjang layaknya persepsi wanita cantik yang ideal.

Gambar 3
(Logo Impressions Body Care Centre)

Berikutnya tahap Signified, terdiri atas logo perusahaan, headline, naskah iklan, box dan panel. Gambar 3 merupakan logo perusahaan dari Impressions. Gambar yang menjelaskan nama perusahaan dari program perawatan dan kebugaran tubuh. Dengan tampilan bunga berwarna merah yang berjenis kembang sepatu disisi kiri tulisan Impressions dan mengikuti tulisan selanjutnya adalah Body Care Centre dibagian bawah tulisan Impressions.

Gambar 4
Headline pada iklan
Sumber : Majalah Cosmopolitan

Bagian dari isi dalam iklan salah satunya adalah headline seperti pada gambar 4. ‘Dengan Endermologie Selulit dan Strachmark hilang tak bersisa’ digunakan sebagai headline pada iklan Impressions. Dengan diberikan sentuhan warna merah dan dipertebal jenis tulisannya untuk memberikan kesan penekanan pada kalimat headline.

Gambar 5
(Isi pesan pada iklan Impressions)
Sumber : Majalah Cosmopolitan

Sebagai naskah iklan yang didalamnya terkandung isi pesan yang ingin disampaikan oleh produsen kepada konsumennya. Menampilkan anjuran dari program Impressions yang ditawarkan dengan pewarnaan pada tulisan terdiri dari dua jenis warna yaitu hitam dan merah. Ada beberapa bagian tulisan yang diberikan penekanan warna untuk menjelaskan lebih mendalam mengenai program perawatan yang disajikan oleh Impressions.

Gambar 6
(bagian dari kegiatan program perawatan Impressions)
Sumber : Majalah Cosmopolitan

Gambar 6, menampilkan kegiatan yang dilakukan selama mengikuti perawatan dari Impressions Body care Centre. Tepat berada dibawah foto-foto yang terlihat dalam gambar 6, terdapat tulisan yang menjelaskan kandungan yang ada dalam kegiatan perawatan dan ingin meyakinkan kepada konsumen bahwa produknya aman digunakan.

Gambar 7
Sumber : Majalah Cosmopolitan

“Nikmati penawaran special BUY 1 GET 2” adalah bagian dari isi pesan yang ingin disampaikan produsen kepada konsumen atau masyarakat. Dengan melakukan promosi melalui isi kalimat pada gambar 7, menjadi daya tarik iklan untuk konsumen tertarik pada penawaran yang diberikan oleh Impressions. Secara visualisasi, warna merah menjadi dasar pada bentuk kotak yang didalamnya terdapat tulisan kalimat yang berwarna putih dan diikuti dengan pemberian tulisan dalam bahasa Inggris “Buy 1 Get 2” yang artinya jika konsumen membeli atau menggunakan satu produk dari Impressions maka konsumen akan diberikan tambahan produk lain tanpa Cuma-Cuma (gratis).

Gambar 8
(keterangan alamat dan contact person Impressions)
Sumber : Majalah Cosmopolitan

Informasi mengenai daerah atau Impressions yang tersebar di Indonesia dengan penampilan empat variasi warna yang ada pada gambar 8. Dengan tujuan memberikan contact person kepada konsumen jika ingin mengunjungi Impressinos Body Care Centre yang tersebar di beberapa daerah yang ada di Indonesia.

Gambar 9
(Informasi diperoleh melalui website Impressions)
http://www.impressions.co.id/
Perbedaan yang terlihat pada gambar 9 secara visualisasi, informasi yang ditampilkan melalui website Impressions lebih lengkap dengan adanya sejarah perusahaan, visi dan misi perusahaan, session tanya – jawab oleh pakar kecantikan, pproduk atau pelayanan yang ditewarkan oleh produsen, lokasi (gambar lokasi gedung dan peta lokasi) dan hasil kegiatan yang telah dilakukan oleh Impressions.

c. Analisis Tahap Kedua : Konotasi
Konotasi menurut barthes adalah tingkat penandaan yang menjelaskan hubungan antara penanda dan petanda yang berupa “form” yang didalamnya beroperasi makna yang tidak eksplisit, tidak langsung dan tidak pasti (artinya terbuka terhadap berbagai kemungkinan), ia menciptakan makna – makna lapis kedua yang bersifat implicit (connotative meaning). Yang terbentuk ketika penanda dikaitkan dengan berbagai aspek yang terbentuk ketika penanda dikaitkan dengan berbagai aspek psikologis seperti perasaan, emosi dan keyakinan. Dengan kata lain, pemaknaan pada tingkatan kedua merupakan makna tersirat yang lebih mendalam sesudah pemaknaan denotasi yakni pemaknaan yang terlihat.
Dalam tahap konotasi, terdiri dari dua bagian yang terpisah yaitu berupa “form” dan “content” (myth atau mitos). Untuk tahap kedua (konotasi), yang dibedah terlebih dahulu adalah konotasi yang berupa “form” atau dalam bahasa lain adalah bentuk – bentuk objek yang terkandung didalamnya.
Terlihat dalam Signifier, paga gambar versi majalah yang diperagakan oleh model bernama Devi Permatasari menggunakan pakaian seksi dan ketat berwarna hitam. Makna yang tersirat dibalik penampilan gambar iklan tersebut adalah warna hitam mempunyai makna secara psikologi warna yakni warna hitam artinya “berkesan elite, elegan, mempesona, kuat, dan rendah hati”. Dengan sikap tubuh yang memberikan sentuhan lekukan tubuh yang ramping, langsing tanpa timbunan lemak, hal inilah yang menjadi representasi atau penggambaran tubuh wanita yang umumnya banyak diinginkan oleh sebagian kaum perempuan di era modern sekarang ini. Dalam iklan versi majalah Cosmopolitan, sang model menunjukkan ekspresi wajah secara gembira seperti raut wajah yang tersenyum dan berdiri dengan sikap tubuh yang kesamping seakan ingin memperlihatkan lekukan tubuhnya setelah melakukan perawatan tubuh bersama Impressions.
Sama halnya dengan gambar yang diperoleh berdasarkan website Impressions, nampak Maia Estianty dengan senyuman bahagia dan bangga mengenakan busana seksi berwarna merah (yang melambang berani, penuh semangat, agresif dan menarik perhatian). Dengan memamerkan lekukan tubuhnya setelah melakukan program perawatan Impressions. Sebagai representasi atas hasil yang didambakan oleh setiap perempuan.

Mengenal Efek Psikologi Warna
Warna-warni memiliki efek psikologis. Efeknya berpengaruh terhadap pikiran, emosi, tubuh, dan keseimbangan. Aplikasi warna pada sebuah ruangan dapat menghasilkan kesan perasaan yang semakin luas atau justru kebalikannya.
Berikut ini sifat-sifat psikologis beberapa warna:
“Merah – Berani, penuh semangat, agresif, memicu emosi, dan menarik perhatian. Secara positif, warna merah mengandung arti cinta, gairah, berani, kuat, agresif, merdeka, kebebasan, dan hangat. Negatifnya adalah punya arti bahaya, perang, darah, anarki, dan tekanan. Kuning – Menciptakan perasaan optimis, percaya diri, pengakuan diri, akrab, dan lebih kreatif. Kuning juga dapat merugikan kita karena menyampaikan pesan perasaan ketakutan, kerapuhan secara emosi, depresi, kegelisahan, dan keputusasaan. Pilihan warna kuning yang tepat dan penggunaan yang sesuai akan mengangkat semangat kita dan lebih percaya diri. Hijau – berarti kesehatan, keseimbangan, rileks, dan kemudaan. Unsur negatif warna ini di antaranya memberi kesan pencemburu, licik, terasa jenuh, serta dapat melemahkan pikiran dan fisik. Di dalam sejarah China, warna hijau adalah warna perempuan. Lain dengan budaya muslim, yang menganggap warna hijau adalah warna yang suci. Warna untuk perdamaian juga hijau. Biru – Melambangkan intelektualitas, kepercayaan, ketenangan, keadilan, pengabdian, seorang pemikir, konsistensi, dan dingin. Selain itu, dapat memicu rasa depresi dan ragu-ragu. Biru gelap akan membantu berpikir tajam, tampil jernih, dan ringan. Biru muda akan menenangkan dan menolong berkonsentrasi dengan tenang. Terlampau banyak biru akan menimbulkan rasa terlalu dingin, tidak akrab, dan tak punya emosi atau ambisi. Ungu – Memberi efek spiritual, kemewahan, keaslian, dan kebenaran. Ungu mampu menunjang kegiatan bermeditasi dan berkontemplasi. Kemerosotan dan mutu yang jelek adalah sifat-sifat negatif warna ini. Putih – Warna murni, suci, steril, bersih, sempurna, jujur, sederhana, baik, dan netral. Warna putih melambangkan malaikat dan tim medis. Warna ini juga bisa berarti kematian karena berkonotasi kehampaan, hantu, dan kain kafan. Abu-abu – Bijaksana, dewasa, tidak egois, tenang, dan seimbang. Warna abu-abu juga mengandung arti lamban, kuno, lemah, kehabisan energi, dan kotor. Karena warnanya tergolong netral atau seimbang, warna ini banyak dipakai untuk warna alat-alat elektronik, kendaraan, perangkat dapur, dan rumah. Hitam – Berkesan elit, elegan, memesona, kuat, agung, teguh, dan rendah hati. Kesan negatifnya adalah hampa, sedih, ancaman, penindasan, putus asa, dosa, kematian, atau bisa juga penyakit. Tak seperti putih yang memantulkan warna, hitam menyerap segala warna. Dengan hitam, segala energi yang datang akan diserap. Walau mampu memesona dan berkarakter kuat, tapi banyak orang yang takut akan “gelap”. Warna hitam berkonotasi gelap”.
Nampak juga pada simbol atau lambang dari perusahaan menggunakan ikon kembang sepatu (Hibiscus), diperoleh informasi melalui website (www.ideaonline.co.id) seperti sejarah dan mitos yang berkembang mengenai kembang sepatu adalah daya tarik kembang hibiscus madonna ini adalah kerutannya. Kondisi ini menimbulkan bentuk daun yang berbeda dibandingkan dengan bentuk kembang sepatu yang beredar dipasaran. Kerutan pula yang membuat tepi bunga tampak lebih bergelombang. Sedangkan bagian tengahnya, tampak urat-urat kembang sehingga menimbulkan kesan “kekar”. Namun ia tetap cantik berkat warna orange yang terlihat menyolok. Tetap cantik walau tampil maskulin.
Selanjutnya, melalui konotasi yang berupa “content” secara isi didalamnya terdapat makna dilihat dari sudut pandang mitos yang berkembang mengenai representasi ‘ramping tanpa efek samping’. Terdiri dari headline, naskah iklan, box dan panel merupakan kesatuan dari pemaknaan konotasi berupa “content” yang berkembang menjadi sebuah mitos dalam kehidupan sehari – hari. Salah satunya pada kalimat tepat dibawah logo perusahaan, dituliskan ‘ramping tanpa efek samping’ mengandung makna produk – produk yang ditawarkan oleh Impressions tidak menimbulkan dampak negatif pada tubuh dan aman digunakan. Kalimat ‘ramping tanpa efek samping’ menegaskan bahwa Impressions ingin memberikan kepercayaan kepada konsumen mengenai produk dan pelayanan perusahaan.
d. Mitos yang terbentuk dan berkembang
Keseluruhan hasil pada analisis iklan ini, diuraikan kembali berdasarkan denotasi, konotasi dan mitos yang dihasilkan. Pada iklan Impressions, secara denotasi (makna yang nampak dan bersifat eksplisit) yakni Devi Permatasari tersenyum gembira dengan memamerkan lekukan tubuhnya yang ramping dan langsing sesuai dengan slogan Impressions ‘ramping tanpa efek samping’.
Melalui konotasi, bagaimana pesan yang tersirat di dalamnya. Mulai dari pemaknaan warna yang dihadirkan dalam iklan cetak, isi pesan headline dan Devi sebagai model iklan diperoleh hasil analisis bahwa Impressions merupakan salah satu program perawatan dan kebugaran tubuh dengan mengembalikan atau membentuk tubuh ramping dan langsing dengan representasi pada sosok model perempuan yang dijadikan sebagai titik ukur atau acuan yang dapat ditiru untuk contoh hasil perawatan yang berhasil dengan Impressions.
Langkah selanjutnya, penulis mencoba menemukan mitos dibalik makna denotasi dan konotasi. Mitos-mitos kecantikan dan seksualitas sebagian juga lahir melalui tradisi dan sebagian dari diri kita sendiri tanpa sadar masih memelihara dan membiarkannya turun kepada generasi muda berikutnya.
“Definisi cantik dan mitos bagi perempuan berubah-ubah dari masa ke masa, namun kaum perempuan tidak terlepas dari mitos selulit dan sedot lemak. Sejak dahulu hingga kini ukuran cantik terus-menerus mengalami pergeseran. Pada abad ke-17 dan ke-18 perempuan cantik jika memiliki tubuh besar dan gemuk dengan penuh lemak dibagian dada dan perut hingga paha. Pada tahun 60-an, banyak perempuan penderita anorexia seperti mendambakan tubuh kurus ala Twiggy (anorexia adalah salah satu cara mengeluarkan kembali makanan yang telah dikonsumsi dengan cara memasukkan jari tangan ke dalam tenggorokan agar tubuh tidak mengalami kegemukan atau takut tubuhnya menjadi gemuk setelah menyantap hidangan makanan). Di tahun 80-an bergeser persepsi cantik bukan lagi dengan tubuh kurus ala Twiggy melainkan dengan memiliki tubuh montok. Kemudian berkembang di tahun 90-an, cantik identik dengan tubuh seksi, cukup berisi dan agak berotot seperti Amerika Latin, Jennifer Lopez”.
Dengan demikian tanda, makna, dan mitos yang muncul pada iklan Impressions adalah penggambaran bentuk tubuh perempuan yang ramping, langsing tanpa timbunan lemak dibagian-bagian tubuh tertentu seperti yang digambarkan melalui iklan Impressions pada majalah Cosmopolitan merupakan representasi keinginan dari setiap wanita pada umumnya. Didukung dengan adanya mitos yang berkembang di masyarakat menjadi sebuah ikon, simbol dan tanda bagi perempuan yang menjadikan tubuh ramping (sesuai slogan Impressions ‘ramping tanpa efek samping) sebagai tolak ukur dan pembanding untuk dapat merealisasikan dari yang diinginkan.

Kesimpulan

a. Kesimpulan analisis
Berdasarkan analisis iklan yang dilakukan oleh penulis dengan menggunakan metode atau kajian semiotika dengan cara analisis dari teori Roland Barthes terhadap iklan perawatan dan kebugaran tubuh Impressions “Body Care Centre” sebagai berikut :
Penanda +Petanda = Tanda atau Denotasi + Konotasi = Mitos
Penanda

Petanda
Tanda

Pemaknaan yang muncul ketika kalimat ‘ramping tanpa efek samping’ berada di bawah logo perusahaan adalah Impressions menegaskan kembali bahwa untuk produk-produk yang Impressions tawarkan kepada konsumen maka Impressions memberikan kepercayaan jika menggunakan perawatannya maka aman digunakan dan tidak menimbulkan dampak negatif pada tubuh. Didukung dengan menampilkan sosok seleritis sebagai bukti hasil dari program perawatan dan kebugaran tubuh yang telah dijalankan oleh Devi Permatasari dan Maia Estianty. Dengan demikian, tanda yang dihadirkan seperti pada gambar di atas, menjadi kesatuan diantara penanda dan petanda menjadi sebuah tanda dari sebuah representasi.
Sehingga mitos yang berkembang ditengah masyarakat mengenai iklan Impressions adalah jika kaum perempuan ingin memiliki tubuh yang ramping seperti layaknya seorang model maka dihadirkannya iklan Impressions versi Devi Permatasari sebagai ikon kecantikan dan menjadi lambang representasi tubuh ramping namun tetap memiliki tubuh yang bugar dan sehat tanpa efek samping.
b. Saran
Representasi dalam foto iklan menggunakan public figure mewakili sebagian kaum perempuan dengan penggambaran dalam benak dan pemikiran para wanita mengenai tubuh yang ideal adalah yang memiliki tubuh ramping tanpa timbunan lemak atau selulit.
Untuk praktisi periklanan, seakan pihak pembuat iklan ingin menyampaikan bahwa hasil gambar pada foto yang digambarkan merupakan hasil bentuk nyata yang sedang dialami oleh kedua public figure (Devi Permatasari dan Maia Estianty). Bagi penulis hal tersebut dapat juga dikatakan sebagai bentuk hasil karya yang bersifat rekayasa foto yang didukung dengan teknologi canggih computer dan memanipulasi bentuk tubuh dalam hasil foto yang ada.
Oleh karena itu, para akedemis di bidang komunikasi diharapkan dapat mendistribusi solusi dengan mensosialisasikan masalah kesetaraan gender kepada masyarakat yang masih kurang sadar akan kesetaraan gender. Hal inilah, yang menyebabkan tubuh perempuan semakin dieksploitasi di depan publik melalui berbagai media cetak dan elektronik yang dapat berpengaruh negative terhadap citra perempuan.

Daftar Pustaka

Jefkins,Frank. (1997) Periklanan, Jakarta : PT. Erlangga
Sobur, Alex. (2002) Analisis Teks Media, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya
Sunardi, ST. (2002) Semiotika Negativa, Yogyakarta, Penerbit Kanal
Strinati, Dominic. (2007) Popular Culture, Cetaka ketiga, Jejak
Budiman, Kris. (2004) Semiotika Visual, Yogyakarta, Buku baik Yogyakarta
Widada, RH. (2009) Saussure untuk sastra, Yogyakarta, Jalasutra
Meleong, J. Lexy. (2002) Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya

Penempatan Papan Iklan (Jenis TV Elektronik)

Pendahuluan

Di masa modern saat ini kondisi periklanan di Ibukota ramai dengan penggunaan sebuah produk, pemasaran dan promosi. Erat kaitannya antara pemasaran dan kondisi periklanan di Ibukota. Karena melalui pemasaran yang semkin pesat dapat mempengaruhi kondisi pasar jika dilakukan kegiatan pemasaran atau promosi di Ibukota. Dengan alasan lain bahwa, Ibukota sebagai salah satu prasarana lokasi yang menunjang untuk terjadinya sebuah pemasaran.
Hal lain yang mempengaruhi salah satunya adalah semakin maraknya papan iklan reklame yang masyarakat jumpai di sekitar kawasan Ibukota. Situasi yang seharusnya tidak dilakukan pemasangan papan yang rata-rata berukuran berkisar mulai dari 6 x 8 meter persegi, 30 meter persegi atau 75 meter persegi. Umumnya pemasangan papan iklan elektronik dilakukan di daerah yang sebelumnya telah dipadatkan oleh papan – papan iklan di tempat tersebut. Sehingga mengakibatkan kondisi yang “semrawut” (dalam istilah bahasa Jawa) dalam artian daerah tersebut terlihat menumpuk dengan adanya pemasangan papan – papan iklan.
Jakarta bersama metropolitan Jabotabek dengan penduduk sekitar 23 juta jiwa merupakan wilayah metropolitan terbesar di Indonesia atau urutan keenam duniaDiperlukan adanya penataan lingkungan yang tidak merusak keindahan Ibukota hanya dengan penempatan atau alokasi papan iklan diberbagai sudut Ibukota. Masayarakat mengenal kondisi Ibukota yang akrab dengan sebutan kemacetan lalu lintas. Dengan pemasangan papan iklan elektronik di sudut – sudut Ibukota, apakah hal tersebut dapat membuat masyarakat menjadi nyaman dengan adanya penempatan papan iklan elektronik atau digital? Apakah melalui pemasangan papan iklan elektronik dapat memberikan sebuah tampilan yang menhibur masyarakat di saat kondisi lalu lintas Ibukota yang terlihat padat dengan kemacetan kendaraan?
Sebagai masyarakat,saya melihat hal ini tidak bersifat sewajarnya. Dengan pengertian, kondisi Ibukota Indonesia baik di kota Jakarta ataupun di Ibukota lain yang ada di Indonesia, tidak memperhatikan keselamatan jika semakin ramai dilakukan pemasangan papan iklan secara menumpuk. Dari pihak spesialis periklanan pun semestinya mampu menata Ibukota dengan papan iklan yang tidak saling menumpuk. Penting dilakukan perubahan konsep lingkungan dan memaksimalkan banyaknya papan iklan yang ada di jalanan Ibukota.
Kondisi Ibukota saat ini selain dipadati oleh pemasangan papan iklan namun di lain pihak para pedagang kaki lima pun memanfaatkan kesempatan untuk berjualan dibawah penempatan papan iklan tersebut. Hal tersebut, dapat mengancam keselamatan para pedagang. Adanya kejadian ini, dipicu karena menurut anggapan pedagang kaki lima usahanya untuk berjualan dibawah papan iklan akan ramai dikunjungi masyarakat dan kondisi tempat tersebut memungkinkan banyaknya masyarakat pejalan kaki yang bergantian melewati kawasan tersebut.
Bukan sesuatu yang dapat dikatakan kondisi yang selayaknya digunakan oleh masyarakat saat ini. Dengan menggunakan jasa pedagang kaki lima untuk berjualan di bawah penempatan papan iklan dapat mengancam keselamatan, baik itu para pedagang kaki lima atau masyarakat yang hendak menggunakan pejalan kaki. Di lain pihak, umumnya penempatan papan iklan berada di antara kawasan lampu lalu lintas. Apakah kegiatan tersebut tidak mengurangi keselamatan pengguna pajalan kaki?
Penataan lingkungan Ibukota saat ini tidak dapat dikendalikan dengan situasi periklanan di Indonesia yang semakin laris manis. Dimana – mana masyarakat ruang luar di ramaikan dengan adanya kegiatan periklanan yakni penempatan papan iklan secara menumpuk. Dapat terlihat di daerah Senayan khususnya Jln. Asia Afrika, selain padat dengan kendaraan namun ramai dengan penempatan papan iklan yang tidak tertata dengan seimbang, terstruktur, seakan – akan tidak memiliki konsep lingkungan. Misalnya, di dalam satu area Senayan dijumpai lebih dari sepuluh papan iklan yang terpasang. Dan terdapat para pedagang kaki lima di bawah alokasi papan iklan.
Kejadian ini, seharusnya dapat mengubah konsep lingkungan berdasarakan strategi periklanan melalui iklan ruang luar. Para ahli periklanan seharusnya, dapat belajar dari pengalaman yang pernah terjadi seperti beberapa papan iklan ruang luar yang mengalami kerusakan pada besi yang umumnya terbuat dari tembaga menjadi tumbang atau ambruk jatuh.
Sejarah media iklan luar ruang
Sistem Papan Buletin atau yang lebih dikenal dengan istilah bahasa Inggris Bulletin Board System (BBS) adalah sistem elektronik yang standar, rendah biaya, dan akar rumput untuk menyiarkan atau merespon informasi mengenai suatu tema yang spesifik. Sistem papan buletin dijalankan secara lokal dan sering terhubung dengan sistem papan buletin lain dalam skala nasional atau internasional. Biasanya, jaringan-jaringan ini memberikan pelayanan dalam daerah yang berdekatan secara geografis dan kebutuhan spesifik dari pengguna lokal. Pada awalnya, pengguna sistem papan buletin hanya dapat mengakses program ini melalui saluran telepon yang terhubung dengan modem, namun pada awal tahun 1990, beberapa pengguna sistem papan buletin dapat mengaksesnya melalui Telnet, paket jaringan berganti (packet switched network), atau koneksi radio paket (packet radio connection). Konsep dari sistem papan buletin sendiri mengacu pada cara tradisional menempelkan pesan pada papan buletin yang biasa ditemukan di pintu masuk supermarket, sekolah, perpustakaan, atau tempat umum lainnya dimana orang-orang dapat menyebarkan pesan, iklan, ataupun berita komunitas.
INDONESIA >> DKI JAKARTA

DKI JAKARTA
Ibu Kota : Jakarta
Luas Wilayah : 740,28 km²
Jumlah Penduduk : 8.622.065 jiwa
Jumlah Desa/Kelurahan : 267
Jumlah Kecamatan : 44
Jumlah Kabupaten/Kota : 6
(sumber : Kep. Mendagri No. 109 A Tahun 2003)

Gambar 1
Sumber : Suku Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kotamadya

Gambar 3
Peta jalan Asia Afrika – Senayan (Jakarta Selatan)

Dari kejadian inilah, penulis memilih untuk lebih dalam tentang “Penempatani papan iklan elektronik” di Ibukota.

A. Permasalahan
Telah diuraikan di bagian pendahuluan secara garis besar yang berkaitan dengan kondisi lingkungan di Ibukota khususnya. Pada dasaranya masalah yang terjadi pada problematik lingkungan tidak terlepas dari penataan lingkungan yang saat ini semakin merosot atau terjadi pengurangan kualitas kesadaran lingkungan dan keselamatan masyarakat.
Masalah yang saya pilih yakni, “Penempatan Papan Iklan Elektronik”. Menumpuknya penempatan papan iklan di Ibukota yang pada awalnya para ahli periklanan dan marketing ingin mempersembahkan sebuah tampilan gambar secara visual sebuah kegiatan pemasaran dan promosi melalui pemasangan papan iklan ruang luar, namun di lain pihak cara tersebut dilakukan secara berlebihan bahkan dapat merusak keindahan alam dan lingkungan.
Dapat diambil contoh kejadian yang telah terjadi di Ibukota saat ini, salah satunya seperti situasi lalu lintas di kawasan Margonda – Depok secara rutin mengalami kemacetan lau lintas. Semenjak dibangunnya sebuah pusat perbelanjaan yang bernama “Margo City” tepat berada di depan Margo City terlihat Papan iklan Elektronik dengan ukuran besar.
Erat kaitannya antara kondisi lingkungan dengan penempatan papan iklan elektronik. Apakah dengan adanya penempatan papan iklan elektronik dapat mengurangi frekuensi kemacetan? Apakah pemasangan papan iklan elektronik mempunyai tujuan tertentu seperti, ingin memberikan sebuah tampilan visual yang menghibur pengguna lalu lintas?
Tidak dapat dibayangkan, betapa rumitnya kondisi lalu lintas saat melintasi kawasan yang rutin dengan kegiatan kemacetan kemudian di hadapan masyakarat di hadirkan tampilan visual yang penempatannya berlebihan. Permasalahan selain itu adalah keselamatan pengguna lalu lintas khususnya yang berada di sekitar kawasan papan iklan elektronik. Di sisi lain, adanya beberapa masyarakat khususnya pedagang kaki lima yang memanfaatkan usaha berdagang tepat berada di bawah alokasi papan iklan elektronik.
Dapat dibayangkan situasi yang terjadi pada waktu tertentu masyarakat semakin ramai melintasi lalu lintas serta didukung kegiatan berjualan di pinggiran kota dan diikuti dengan penampilan secara visual dari beberapa iklan yang hadir pada papan iklan elektronik. Inilah yang dapat mengurangi nilai keharmonisan lingkungan melalui ketidaksadaran masyarakat akan pentingnya keseimbangan antara lingkungan yang ramah dan kegiatan periklanan.
Penempatan papan iklan elektronik yang menumpuk dan saling “tumpah tindih” dapat mengurangi nilai keindahan pada lingkungan. Muncul sebuah anggapan bahwa perhatian terhadap perkembangan kota merupakan sesuatu yang kurang menarik. Pemikiran ini menyebabkan banyak proyek yang dirancang hanya berupa objek-obejek yang berdiri sendiri dan semakin lama akan menurunkan kualitas kehidupan kota.
Dalam waktu sekitar seperempat abad belekangan ini posisi lingkungan hidup telah bergeser dari pinggiran menuju ke arus pembangunan. Hal ini pun menjadi permasalahan yang akan saya bahas lebih dalam. Serta bagaimana masyarakat dan para ahli periklanan memandang peranan lingkungan dan kegiatan pemasaran yang efektif tanpa mengurangi keindahan lingkungan? Permalasahan lain yang muncul adalah bagaimana pengaruhnya jika seorang ahli periklanan menata ruang kota dengan penempatan papan iklan elektronik melalui pemasaran ruang luar dengan psikologi lingkungan perkotaan yang mengacu pada warga Jakarta yang bercermin pada warga dunia?
Berdasarkan kejadian yang terjadi saat ini dan situasi Ibukota yang dipenuhi dengan penempatan papan iklan elektronik menjadikan sebuah permasalahan tentang “Bagaimana kondisi limgkungan Ibukota yang tersebar di Indonesia kembali terstruktur dengan baik?” Dengan melihat fenomena yang tertumpu di satu titik tanpa bergerak sedikit pun untuk sebuah perbaikan melainkan menjadikan fenomena tersebut semakin mundur dengan mengotori lingkungan.

Jika di urutkan secara sistematis, permasalahan yang muncul antara lain :
1. Menumpuknya penempatan papan iklan di jalanan
2. Pemanfaatan lahan oleh pedagang kaki lima yang berada di bawah bangunan papan iklan.
3. Mengurangi kenyamanan dan keselamatan bagi pengguna jalan di kawasan tersebut.

B. Batasan Permasalahan
Berdasarkan masalah yang terjadi, adapun batasan yang penting halnya. Meliputi, dimana kawasan yang mengalami masalah lingkungan, berapakah ukuran bentuk fisik yang menjadi permasalahan, kapan tepatnya permasalahan tersebut muncul dan menjadi pusat permasalahan saat ini.
Umumnya penempatan papan iklan elektronik dilakukan di antara kawasan lalu lintas yang rutin akan kemacetan (seperti, Jln. Asia Afrika, Jln. Margonda, Jln. Harmoni, daerah Bintaro dan di sekitar pengguna jalan umum seperti disamping rel kereta api (Tanjung Barat – Depok) dan sebagainya. Pada dasarnya tempat – tempat yang dituju untuk penempatan papan iklan elektronik berada di kawasan yang rawan kemacetan lalu lintas.
Secara fisik pada bentuk papan iklan elektronik adalah persegi panjang. Papan iklan elektronik yang ditempatkan tinggi pada ukuran kaki papan iklan tersebut. Adapula yang memiliki tinggi kaki pada papan minimum dari posisi jalanan. Jika bentuk portrait yang dipakai, bisa jadi akan lebih banyak ruang yang dihemat dan tampak lebih rapi. Di beberapa kota bahkan kini populer dengan billboard yang mengangkangi jalan raya. Dari segi keindahan, keamanan dan kenyamanan bilboard model ini sesungguhnya cukup memprihatinkan, meskipun mungkin dianggap sebagai sebuah inovasi dalam beriklan luar ruang.

Gambar 4
Bilboard yang sesungguhnya bisa mempercantik, dengan pemasangan yang asal membuatnya seolah riasan coreng moreng di wajah kota. Pilihan bentuk billboard yang dipasang di tengah kota menjadi portrait, hanyalah salah satu poin dalam pengaturan ‘komposisi ruang bilboard.’ Aspek yang lain tentu saja adalah kesadaran ruang yang harus dipahami oleh para agency dan penguasa kota sebagai pihak yang memiliki kuasa untuk mengatur keberadaan billboard. Saat ini yang terkesan adalah kuasa pemerintah untuk menarik pendapatan saja dari advertensi luar ruang ini. Tak terlalu peduli dengan tata ruang, pajak saja yang di utamakan. Kejadian ini merata dari Jakarta sampai kota-kota lain di Indonesia.
Munculnya problematik lingkungan yang terjadi pada papan iklan elektronik yang semakin tidak tertata semenjak semakin maraknya bangunan pusat pembelanjaan di Ibukota dan produksi sebuah merek berlomba-lomba untuk memasarkan produknya melalui papan iklan ruang luar tanpa memperhitungkan kondisi lingkungan Ibukota.
Sejak adanya penempatan papan iklan elektronik di Ibukota yang saling tumpah tindih, maka dapat terlihat di Ibukota sekarang khususnya Jakarta, banyaknya bangunan-bangunan yang sedang diproses pengerjaannya untuk dijadikan pusat pembelajaan. Disinilah letak permasalahan yang akan semakin rumit. Disamping pembangunan yang baru kemudian pemasangan papan iklan elektronik pun semakin ramai, maka hilanglah keharmonisan ramah lingkungan.
Misalnya di kawasan jln. Asia Afrika – Senayan Jakarta sebelum dibangun pusat pembelanjaan yang sekarang telah berdiri sejak tahun 2007 bernama Senayan City, masih terlihat pemandangan pohon di kawasan tersebut. Akan tetapi semenjak dibangunnya Senayan City saat ini, semakin padat papan – papan iklan elektronik yang memenuhi lokasi Senayan dan sekitarnya bahkan posisi papan iklan ruang luar saling tumpah tindih dan terkesan menumpuk pada satu titik tertentu.
Ukuran lebar, panjang, tinggi pada papan iklan elektronik berkisar antara 6 x 8 meter persegi, 30 meter persegi, 75 meter persegi dan sebagainya.

Gambar 5
Di kawasan Jl. Asia Afrika – Senayan (Jakarta)
C. Hal yang menarik
Di setiap pemunculan jenis atau kategori iklan yang dihadirkan pada papan iklan elektronik, umumnya menampilkan kategori Launching produk baru (untuk produk elektronik seperti, Notebook, handphone, Televisi, dan sebagainya barang-barang elektronik), Informasi mengenai konser music, penawaran potongan harga pada produk tertentu.
Hal yang menarik dari pemunculan kategori – kategori iklan produk berupa animasi visual selain yang sering ditampilkan melalui iklan-iklan televisi (TV Commercial) secara umum. Namun, yang membuat masyarakat pengguna jalan menjadi terpukau dengan kehadiran papan iklan elektronik adalah penayangan visualisasi yang pada dasarnya kondisi tersebut lalu lintas sedang mengalami kemacetan kendaraan. Tanpa sadar masyarakat telah terbius oleh penggunaan dan kehadiran papan iklan elektronik dan dapat menganggu aktifitas masyarakat yang berada di kawasan lalu lintas.
Selain itu di kawasan area parkir seperti jl. Asia Afrika tepat di samping “Senayan City” di jadikan tempat area parkir sedangkan di depan lokasi parkir terdapat kegiatan berjualan para pedagang kaki lima di bawah penempatan papan iklan elektronik. Kawasan yang sebelumnya tertata dengan rapih, tanpa harus menempatkan posisi papan iklan elektronik secara berlebihan dan menggunakan kawasan pejalan kaki untuk kegiatan berjualan pedagang kaki lima yang saat ini semakin terlihat lingkungan menjadi kotor dengan sampah-sampah akibat pedagang kaki lima yang berjualan. Di lain pihak,kondisi udara pun menjadi terganggu,dengan adanya tumpukan sampah dan binatang lalat di area depan parkir jl. Asia Afrika – Senayan (Jakarta Sealatan).
Dapat dibayangkan dalam suatu tempat tertentu, sebagai pusat pemasaran melainkan adapun yang melakukan kegiatan perdagangan secara liar serta diikuti lingkungan dengan situasi jalanan yang tidak bersahabat menjadi semakin rumit dan kotor dengan sampah di pinggiran jalan Ibukota. Kejadian tersebut dapat menimbulkan saluran air yang tersumbat dan mengakibatkan Ibukota menjadi tergenang air pada saat cuaca tidak bersahabat (cuaca hujan). Lingkungan pun menjadi tidak nyaman berada di tempat tersebut dan masyarakat yang akan menerima dampak dari kejadian ini.

A. TUJUAN DAN ALASAN PEMBAHASAN
Saya memilih permasalahan “Alokasi papan iklan elektronik” dengan tujuan yakni, bagaimana masyarakat perkotaan memanfaatkan lingkungan, apakah saat ini masyarakat telah memperlakukan lingkungan sebagaimana mestinya? Mengenal lingkungan Ibukota secara tersirat dan mendeskripsikan kondisi problematik lingkungan di Ibukota yang menghadirkan papan iklan elektronik secara tumpah tindih atau menumpuk dalam suatu tempat tertentu. Selain itu, dari kejadian yang terjadi di Ibukota dapat digunakan sebagai bahan analisis dari situasi lingkungan yang tidak terstruktur dengan baik dan member ruang waktu bagi pemerintah dan para pengguna agency melakukan pemasaran di media ruang luar secara “liar”.
Tujuan lain yang saya harapkan adalah sebagai suatu cara atau metode perbandingan antara lingkungan yang selayaknya digunakan sebagai tempat pemasaran media ruang luar dan yang dilakukan secara berlebihan. Selain itu,mengenal lebih dekat lingkungan yang harus dijaga dari tumpukan sampah akibat ulah para pedagang kaki lima yang tidak bertanggung jawab.
B. ALASAN PEMBAHASAN
Terdapat hal-hal menarik yang dapat digunakan dari pembahasan penempatan papan iklan elektronik tersebut. Dimulai dari pola aturan perkotaan saat ini, keselamatan masyarakat yang berada di area penempatan papan iklan hingga kebersihan lingkungan yang tidak menjamin dengan munculnya sampah-sampah dari kegiatan berjualan di pinggiran jalan Ibukota.
Yang dapat mengakibatkan kawasan Ibukota menjadi kumuh, sesak dengan kehadiran papan iklan ruang luar dan ancaman udara yang tidak sehat.
C. DATA PENDUKUNG (Dokumentasi)
Di kawasan jl. Asia Afrika – Senayan di tahun 2008 keadaan lingkungan sekitar kawasan senayan terlihat adanya keserasian dan teratur penempatan papan iklan.

Gambar 6
Sebelum penempatan papan iklan elektronik

Gambar 7
(Sesudah Penempatan papan elektronik)

Gambar 8
Tepat berada di depan Gedung Caraka Loka, Jl. Asia Afrika – Senayan

Gambar 9
Tepat berada di depan “Senayan City

Gambar 10
Berikut situasi pengguna pejalan kaki yang berada di depan
“Senayan City”

Gambar 11
Tepat berada di bawah area parkiran di samping “Senayan City”

Gambar 12
Kawasan di antara gedung Deplu (senayan) dengan area parker senayan city

Analisis Kajian Penempatan Papan Iklan (jenis TV Plasma)

A. Berdasarkan manfaat Billboard (Jenis TV Plasma)
Ada apa dengan etika di media luar ruang? Dengan melihat billboard sebuah iklan produk bank terbesar yang terpasang hanya beberapa meter dari billboard sebuah produk rokok di jalan menuju perempatan Pancoran – Tebet, Apa yang terlintas di benak kita ketika melihat konstruksi iklan produk rokok terpaksa digeser untuk menghindari kepongahan billboard bank yang hampir menutupinya itu? Atau, dua billboard besar yang bersisian di seberangnya. Dapat dikatakan sebagai salah satu pemandangan perkotaan tanpa nilai manfaat jika diletakkan dalam satu lokasi tertentu. Penempatan Billboard (jenis TV Plasma) atau dengan ditampilkannya iklan-iklan (jenis TV Plasma), dari pihak produsen ingin memberikan sebuah informasi mengenai produknya kepada masyarakat yang berada di tempat keramaian kota. Akan tetapi, di lokasi yang sama terdapat papan reklame (jenis iklan yang tidak bergerak) pun hadir meramaikan suasana perkotaan yang padat dengan kondisi kendaraan. Pada awalnya, produsen memiliki tujuan terhadap penempatan billboard (jenis TV Plasma) di tengah keramaian adalah menyuguhkan tayangan hiburan sekaligus sebagai informasi kepada pengguna jalan.
Melewati jalan Asia-Afrika Senayan, kembali kita akan melihat perebutan ruang di media luar ruang. Kebanyakan dari produk rokok. Di satu lokasi tersebut, iklan-iklan media luar ruang, terutama produk rokok, seolah berebutan menyodorkan pesan iklan mereka. Yang paling kuat anggarannya, bisa jadi yang paling banyak memasang. Penulis memilih kawasan Asia – Afrika sebagai lokasi yang memiliki tingkat penempatan billboard terbanyak (termasuk jenis TV Plasma & papan reklame yang tidak bergerak).
Dengan menempatkan billboard secara bersamaan dalam satu lokasi, dapat dikatakan adanya pengulangan informasi dan ketidak efektivitas informasi. Sehingga muncul penumpukkan secara visual (kasat mata) dan berkurangnya nilai manfaat (informasi) bagi pengguna jalan tersebut. Perlu dilakukan pengurangan dalam penempatan billboard (baik jenis TV Plasma atau papan reklame di daerah perkotaan.

Gambar 13
Lokasi berada di Jl. Asia – Afrika Senayan

B. Berdasarkan Alasan Penempatan Billboard ( jenis TV Plasma)
Penyimpangan tata ruang terjadi pada hampir semua kota dan daerah di Indonesia. Pada kota-kota besar penyimpangan tersebut bahkan sudah sampai pada tingkatan yang mengkhawatirkan karena dampak yang ditimbulkannya sangat meresahkan. Produsen tentunya memiliki alasan tersendiri untuk memilih penempatan billboard (jenis TV Plasma) di tengah keramaian kota yakni ;
– Menggunakan kesempatan mengiklankan produknya lebih dekat dengan masyarakat pada saat situasi lampu lalu lintas berubah menjadi berhenti (Lampu Merah) tepat berada di antara lampu lalu lintas dan pandangan mata pengguna jalan pun tertuju pada iklan yang ada di dalam billboard (jenis TV Plasma)
– Sebagai bentuk hiburan dengan tujuan pengguna jalan tidak merasa bosan ketika melintasi daerah perkotaan yang padat dengan polusi udara dan polusi suara (yang bising).
– Memberikan tampilan promosi yang berbeda dengan papan reklame lainnya ( jenis tidak bergerak) supaya terlihat menarik masyarakat.
Salah satu strategi penempatan iklan media luar ruang adalah penempatan yang harus menonjol, cenderung berdiri sendiri (single performer), sehingga pesan produknya bisa lebih menancap di benak sasaran audiensnya. Di sinilah sebenarnya peran perencana strategis untuk media luar ruang sangat diperlukan agar iklan media luar ruang jadi lebih efektif dan efisien. Pengiklan seharusnya lebih taktis dan strategis menempatkan iklan media luar ruang mereka.

Gambar 14
Billboard (jenis TV Plasma) berada tepat di belakang bundaran Senayan
C. Berdasarkan Promosi dan Publikasi
Penempatan dan pemasangan billboard (jenis TV Plasma) banyak keuntungan yang diperoleh untuk pihak produsen, mulai dari segi promosi, publikasi, produksi melalui pemasangan iklan ruang luar di kawasan perkotaan. Memberikan nilai pemasukkan bagi produsen atas penjualan produknya yang cenderung konsumen memilih untuk membeli produknya. Akan tetapi dibalik dari kegiatan promosi dan publikasi, siapakah target yang menjadi sasarannya? Apakah ditujukan hanya kepada pengguna jalan-jalan yang berada di perkotaan atau beberapa masyarakat yang menggunakan jalan tersebut?
Kejadian di atas sebagai fungsi promosi bisnis melalui media ruang luar. Maka akan membentuk suatu pengaruh terhadap billboard (jenis TV Plasma) dengan minat masyarakat untuk membeli produk tersebut. Umumnya iklan – iklan yang ada di dalam tampilan billboard (jenis TV Plasma) seperti produk rokok, produk telekomunikasi GSM, produk Bank. Dalam kaitannya dengan penayangan iklan billboard (jenis TV Plasma) untuk produk rokok tidak memiliki factor pendidikan dan kesehatan. Diketahui bahwa rokok dapat merusak kesehatan jantung namun produsen tetap menggunakan media ruang luar sebagai sarana promosi dan publikasi terhadap produk.
Bisnis adalah bagian dari sosial karena bisnis melakukan hubungan – hubungan yang berarti dengan komunitas. Kegiatan promosi dan publikasi termasuk kedalam sebuah kegiatan bisnis yang dijalankan oleh produsen untuk mencapai suatu tujuan pemasaran. Melalui berbagai saluran media, mereka berusaha menyampaikan kepada konsumen bahwa produk mereka dirancang untuk membantu konsumen mendapatkan apa yang mereka inginkan. Namun produk rokok dalam penampilan iklan billboard (jenis TV Plasma) tidak dapat dikatakan sebagai produk yang dirancang untuk membantu konsumen karena tidak memiliki unsur yang mendukung hidup sehat dan tidak adanya nilai pendidikan dalam iklan produk rokok.
Dengan perencanaan strategis untuk media luar ruang, pengiklan bisa memperoleh masukan berharga untuk mengatur penempatan iklan media luar ruang agar lebih mendekati dan berpengaruh pada sasaran audiens atau pun pasar utama mereka. Perencanaan strategis media luar ruang bisa dianalisis dari beberapa sudut pandang dan penilaian, misalnya masalah kegunaan produk, demografis, tingkat kepadatan jalan, jenis pelintas, kebiasaan pelintas jalan, dan sebagainya. Bahkan hingga ke pemilihan bentuk, desain maupun bahan yang akan dipergunakan.
Berdasarkan desain yang dibangun dari billboard (jenis TV plasma) terdiri dari bahan baku seperti ;
– Pondasi
• sistem beton bertulang;
-Penerangan
• lampu metal holidi (250 watt & 400 watt)

Media yang digunakan :
• Bidang Board menggunakan: bahan dasar plat aluminium
• cat
• menie aktive primer
• Rangka board besi stall
Penyebaran informasi produk dengan menggunakan poster, brosur, flayer dan banner mulai dikurangi. Para pemasar juga harus bertanggung jawab atas banyak kertas berceceran dijalanan akibat kegiatan promosi dan publikasi produk. Melakukan pengurangan frekuensi promosi dan publikasi secara bersamaan waktu dapat meningkatkan nilai efektivitas kegiatan periklanan melalui media ruang luar tanpa mengotori kawasan perkotaan.
D. Peraturan mengenai pemasangan papan iklan di media luar ruang
Tarif Pasal 23
Jenis Penghasilan Perkiraan Pengh. Neto Tarif Efektif
Dividen – 15,0%
Bunga – 15,0%
Royalti – 15,0%
Hadiah dan penghargaan – 15,0%
Bunga simpanan koperasi yang melebihi Rp240.000 sebulan – 15,0%
Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta khusus kendaraan angkutan darat untuk jangka waktu tertentu berdasarkan kontrak atau perjanjian tertulis ataupun tidak tertulis. 10% 1,5%
Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta, selain kendaraan angkutan darat, untuk jangka waktu tertentu berdasarkan kontrak atau perjanjian tertulis ataupun tidak tertulis, kecuali sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan persewaan tanah dan atau bangunan yang telah dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final. 30% 4,5%
Jasa teknik 30% 4,5%
Jasa manajemen 30% 4,5%
Jasa konsultansi kecuali konsultansi konstruksi 30% 4,5%
Jasa Pengawasan konstruksi 262/3 % 4,0%
Jasa perencanaan konstruksi 262/3 % 4,0%
Jasa penilai 30% 4,5%
Jasa aktuaris 30% 4,5%
Jasa Akuntansi 30% 4,5%
Jasa Perancang 30% 4,5%
Jasa pengeboran (jasa driling) di bidang penambangan minyak dan gas bumi (migas), kecuali yang dilakukan oleh bentuk usaha tetap 30% 4,5%
Jasa penunjang di bidang penambangan migas 30% 4,5%
Jasa penambangan dan jasa penunjang di bidang penambangan selain migas 30% 4,5%
Jasa penunjang di bidang penerbangan dan bandar udara 30% 4,5%
Jasa penebangan hutan 30% 4,5%
Jasa pengolahan limbah 30% 4,5%
Jasa penyedia tenaga kerja 30% 4,5%
Jasa perantara 30% 4,5%
Jasa di bidang perdagangan surat-surat berharga, kecuali yang dilakukan oleh Bursa Efek, KSEI dan KPEI 30% 4,5%
Jasa kustodion/ penyimpanan/ penitipan, kecuali yang dilakukan oleh KSEI 30% 4,5%
Jasa pengisian suara 30% 4,5%
Jasa mixing film 30% 4,5%
Jasa sehubungan dengan software komputer, termasuk perawatan, pemeliharaan dan perbaikan 30% 4,5%
Jasa instalasi/ pemasangan mesin, listrik/ telepon/ air/ gas/ AC/ TV Kabel; kecuali dilakukan oleh pengusaha konstruksi 30% 4,5%
Jasa instalasi/ pemasangan peralatan; kecuali dilakukan oleh pengusaha konstruksi 30% 4,5%
Jasa perawatan/ pemeliharaan/ perbaikan mesin, listrik/ telepon/ air/ gas/ AC/ TV kabel 30% 4,5%
Jasa perawatan/ pemeliharaan/ perbaikan peralatan 30% 4,5%
Jasa perawatan/ pemeliharaan/ perbaikan alat-alat transportasi/ kendaraan 30% 4,5%
Jasa perawatan/ pemeliharaan/ perbaikan bangunan 30% 4,5%
Jasa pelaksanaan konstruksi, termasuk Jasa perawatan/ pemeliharaan/ perbaikan bangunan; Jasa instalasi/ pemasangan peralatan, mesin/ listrik/ telepon/ air/ gas/ AC/ TV kabel; sepanjang jasa tersebut dilakukan oleh Wajib Pajak yang mempunyai izin/ sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi 13,33% 2,0%
Jasa maklon, 20% 3,0%
Jasa penyelidikan dan keamanan 20% 3,0%
Jasa penyelenggara kegiatan/ event organizer 20% 3,0%
Jasa pengepakan 20% 3,0%
Jasa penyediaan tempat dan/atau waktu dalam media massa, media luar ruang atau media lain untuk penyampaian informasi 10% 1,5%
Jasa pembasmian hama 10% 1,5%
Jasa kebersihan/ cleaning service. 10% 1,5%
Jasa catering 10% 1,5%

Pemasangan papan iklan (media luar ruang) tidak dapat dilakukan tanpa adanya peraturan. Beberapa pasal yang menetapkan peraturan dalam surat izin pemasangan papan iklan dan adanya biaya yang telah ditetapkan oleh pemerintah kepada pihka produsen dan agen iklan.
E. Problematik Lingkungan

Gambar 15
Kawasan depan Plasa Senayan
Hasil dokumentasi di atas sebagai salah satu bentuk penerapan kegiatan promosi dan publikasi yang sesuai dengan kebutuhan lingkungan. Pengurangan terhadap penempatan billboard di kawasan Senayan dapat membantu meningkatkan kesadaran akan kebersihan kota dari penempatan billboard.
Melihat dari segi keselamatan, penempatan billboard (jenis TV Plasma) dapat mengganggu kenyamanan bagi pejalan kaki di kawasan billboard. Sebagai contoh, dalam dokumentasi di bawah ini terlihat dari problematik pada siang hari dan malam hari adanya perbedaan kondisi lingkungan yang semakin meresahkan masyarakat jika berjalan di malam hari pada kawasan di bawah penempatan billboard (jenis TV Plasma). Baik di siang hari atau di malam hari, adanya kegiatan berjualan yang berada di sekitar area penempatan billboard. Inilah yang dapat mengancam keselamatan dan kenyaman bagi pengguna jalan kaki. Dapat dilhat kondisi di siang hari, terdapat sisa – sisa kemasan makanan atau minuman dari kegiatan pedagang kaki lima merusak kebersihan lingkungan dan mengurangi materi promosi yang tidak efektif.

Gambar 16
Kondisi di siang hari

Gambar 17
Kondisi di malam hari
Jika dilihat berdasarkan prasarana billboard (jenis TV Plasma) meletakkan pertumbuhan lokasi-lokasi baru itu didominasi oleh produk-produk rokok dan perbankan. Lahan publik mulai banyak tersita lagi oleh kehadiran iklan-iklan media luar ruang dalam bentuk billboard maupun neon box di PJU, belum lagi terhitung baliho-baliho yang bertebaran di sana-sini. Klien mulai terbiasa dan mau pasang billboard lagi, segeralah billboard-billboard baru tumbuh bak jamur di musim hujan. Jalur non-3 in one yang kerap macet pun jadi daerah strategis. Jalur protokol Sudirman-Thamrin yang konon seharusnya dibatasi, juga tak luput dari serangan jamur tersebut.
Mengurangi estetika atau keindahan sudut perkotaan hanya penempatan billboard (jenis TV Plasma) dengan ukuran yang 30% menutupi ruang jalanan perkotaan. Problematik lain yang terjadi di malam hari, pantulan cahaya dari penampilan billboard (jenis TV Plasma) menyilaukan pandangan pengguna kendaraan roda empat dan roda dua saat melintas kawasan billboard (jenis TV Plasma). Inilah yang memberikan nilai negatif dan kejelekkan pada lingkungan di malam hari yang menghalangi konsentrasi pengguna jalan.
Berikut adalah billboard di kawasan Ibukota Jakarta (Problematik di siang hari), antara lain :
Senayan Bintaro

Harmoni Blok M
Gambar 18
Kumpulan kawasan yang berada di antara papan iklan (jenis TV plasma)

Problematik di malam hari, khususnya di kawasan Asia – Afrika Senayan Jakarta Selatan, antara lain :

Gambar 19
Kondisi Jalanan di malam hari kawasan Senayan – Jakarta Selatan

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat ditarik dari problematik yang terjadi terhadap penempatan papan iklan (jenis TV Plasma) sebagai bentuk kegiatan promosi dan publikasi yang saat ini tidak dibenarkan untuk melakukan kegiatan periklanan jika hal tersebut mengganggu kenyamanan, keselamatan, kebersihan tata letak kota maka, hipotesa yang terbentuk adalah “Segala macam promosi (jenis TV Plasma dan papan ruang luar) saat ini sudah tidak sesuai dengan perkembangan kota yang menjadikan kawasan perkotaan sesak dan padat dengan penempatan papan iklan ruang luar.

Saran
Memberikan peluang bagi produsen untuk mempublikasikan melalui media ruang luar tentunya memiliki peraturan tertentu agar tidak merusak nilai estetika lingkungan. Saran bagi pengguna sarana media ruang luar, agar lebih menata penempatan tata ruang kota dengan posisi papan iklan yang teratur dan tidak saling bertumpuk pada papan iklan lainnya.
Dengan adanya saran, dapat membangun tata ruang kota lebih serasi dan mengandung unsur nilai estetika lingkungan sehat yang bebas dari sisa-sisa makanan dari hasil penjualan pedagang kaki lima yang berada di bawah papan iklan tersebut.

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞TERIMAKASIH∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞