SEKILAS SEJARAH DAN ARSITEKTUR “TOKO MERAH”

SEKILAS SEJARAH DAN ARSITEKTUR “TOKO MERAH”

A. SEJARAH

Usia bangunan                        : 280 tahun (1730 – 2010)

Letak bangunan                      : Jl. Kalibesar Barat No. 11, Kelurahan Roa Malaka,

Kecamatan   Tambora,  Jakarta Barat.

A.1. Karakteristik Bangunan           :

– Salah satu dari 216 monumen cagar budaya di DKI Jakarta.

– Salah satu dari 8 monumen warisan VOC yang berada di dalam kawasan    tembok dan parit pertahanan kota asli Batavia.

– Satu-satunya bangunan bekas rumah tinggal elit zaman kejayaan VOC yang paling utuh dan terawat, serta mempertahankan keasliannya.

A.2. Peraturan yang melindunginya :

–  Bangunan cagar budaya ini diatur dalam Undang-undang Monumen Ordonantie No. 19 Tahun 1931 (Staatsblad Tahun 1931 No. 238) yang kemudian diubah dengan Monumenten Ordonantie No. 21 Tahun 1934 (Staatsblad Tahun 1934 No. 515)

– Peraturan yang dikeluarkan Gubernur Ali Sadikin, SK Gubernur No.Cb.11/1/12/1972, tanggal 10 Januari 1972, yang menetapkan tentang pemugaran bangunan, penetapan daerah khusus yang dilindungi, dan lain-lain.

– Didukung Undang-undang No.5/1992 tentang Benda Cagar Budaya, yang menetapkan bahwa keseluruhan Benda Cagar Budaya dikuasai negara.

–  Dikeluarkan pula Surat Keputusan Gubernur KDH Ibukota Jakarta No. 575 tanggal 29 Maret 1993, tentang penetapan Bangunan-bangunan Bersejarah dan Monumen di Wilayah DKI Jakarta sebagai bangunan yang dilindungi.

A.3. Definisi Benda Cagar Budaya menurut Undang-undang:

Benda buatan manusia, bergerak, atau tidak bergerak, yang merupakan kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisanya, yang berusia sekurang-kurangnya 50 tahun, atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurang 50 tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

A.4. Asal Muasal Bangunan Bernama “Toko Merah”

Bangunan dua rumah dalam satu atap ini (dulu belum dinamai “Toko Merah” didirikan pada tahun 1730 oleh Gustaaf Willem Baron van Imhoff, Rumah ini disebut rumah kembar yang terbagi menjadi dua bangunan (sebelah utara dan sebelah selatan) dengan dua pintu.

Di masa itu, dia adalah tokoh pembaharu di berbagai bidang, yaitu: Bidang pertanian dan perkebunan (Mendatangkan petani maju dari Holland untuk mengembangkan pertanian dan perkebunan secara besar-besaran di Jawa Barat dan seputar Batavia untuk  mendukung perdagangan VOC), Bidang pendidikan (Membuka sekolah seminari dan mendirikan Academie de Marine di Batavia),  Bidang Pers dan Jurnalistik (Menerbitkan Koran pertama di Batavia, Bataviasche Nouveles), Bidang pos (Mendirikan Kantor Pos pertama di Batavia), Bidang perbankan (Perintis berdirinya Bank of Lenning, sebagai bank pertama di Batavia),   Bidang arsitektur (Mendirikan rumah tinggal yang megah (yang kemudian disebut Toko  Merah)  dan rumah peristirahatannya Buitenzorg (Istana Bogor), Bidang perhotelan (Membangun rumah penginapan pertama khusus buat orang asing yang datang ke Batavia).

Bangunan kembar (“Toko Merah”) didirikan Baron Van Imhoff sebagai rumah kediaman, saat dia menjabat sebagai Sekretaris II pada Hooge Regering (Pemerintahan Tertinggi)  merangkap Water Fiscaal (Kepala Urusan Pabean).

Dalam buku Nederlandsh Indische Plakaatboek (buku tentang keputusan-keputusan Pemerintah Hindia Belanda, 17 Januari 1786) tercatat:

Kedua rumah dibangun secara bersamaan dengan cita rasa sama, sesuai selera dan keinginan pemiliknya, tanpa campur tangan orang lain. Tidak saja besar, tetapi juga megah dan nyaman, berbeda dengan semua rumah lain yang ada di Batavia.

Baron van Imhoff  yang lahir pada 9 Agustus 1705, membangun rumah tersebut dalam usia 25 tahun. Biaya pembangunan yang mahal tidak menjadi masalah karena:

–          Dia adalah putera seorang bangsawan terpandang di Leer, Niedersachsen (Nederland), seorang ahli waris.

–          Memiliki koneksitas dengan kalangan pengambil keputusan di Batavia.

–          Menjadi menantu dari Direktur Perdagangan VOC, Anthony Huysman dan Johanna Chatarina Pelgrom ( setelah menikah dengan Chatarina Magdalena Huysman pada 5 April 1727, putri tunggal Anthony Huysman)

–          Karier Baron van Imhoff yang terus melejit, mempengaruhi tingkat pendapatan dan status ekonomi sosial.

Latar belakang pembangunan dua rumah di bawah satu atap ini, diduga:

–          Sebagai tempat tinggal keluarga Baron van Imhoff, dan untuk ibu mertuanya Johanna Chatarina, yang setelah suaminya meninggal harus angkat kaki dari rumah dinas perdagangan.

–          Dibangun secara patungan antara mantu dan mertua.

–          Kemungkinan memang rencana bersama, agar bisa hidup berdampingan antara menantu dan ibu mertua, dengan cara saling menghargai privacy dan kebebasan masing-masing.

–          Baron menempati bangunan sebelah utara, Johanna menempati bangunan sebelah selatan.

Tahun 1734:

Ibu mertuanya, Johanna Catharina Pelgrom meninggal dunia.

Rumah kembar di bagian selatan, tidak dihuni oleh siapa-siapa dan tetap dimiliki Baron van Imhoff.

Tahun 1736:

Baron van Imhoff diangkat menjadi Gubernur dan Direktur Perdagangan VOC di Ceylon (Sri Langka), sehingga dia harus meninggalkan Rumah Kembarnya. Tapi dia tetap mempertahankan rumah itu, kemungkinan rumah ini disewakan.

Tahun 1740:

Baron van Imhoff kembali ke Batavia dan tinggal di rumah kembarnya lagi.

Dia diangkat menjadi anggota Raad van Indie (anggota dewan penasihat), yang menentang banyak kebijakan Gubernur Jendral VOC, Adriaan Valckenier (sepupunya sendiri), terutama:

–          Kebijakan dalam upaya menangani ledakan populasi dan imigran warga China di Batavia. Baron pernah mengusulkan agar warga China yang pengangguran dikirim ke Ceylon, karena sering membuat kerusuhan di Batavia. Namun dalam pelaksanaannya Gubernur Jendral VOC Adriaan Valckenier bertindak ceroboh, sehingga warga China banyak yang memberontak, terjadilah pemberontakan.

–          Kebijakan dalam menghadapi kerusuhan dan pemberontakan warga China pada bulan Oktober 1740, yang populer disebut The Chinese Massacre atau The Chinese Moord.

Pada peristiwa ini sekitar 10.000 warga China tewas, termasuk 500 orang tahanan yang ada di dalam penjara Stadhuis (sekarang Museum Sejarah Jakarta) disembelih satu per satu, dan pasien rumah sakit.  Sebanyak 500 orang luka parah, 700 buah rumah rusak, banyak barang berharga hilang dirampok.

Usai pembantaian ini, banyak mayat ditumpuk di kawasan Meester Cornelis (Jatinegara), dalam sebuah rawa, sehingga dikenal sebagai Rawa Bangke.

Banyak orang China lari ke Tangerang, dan tinggal di tempat warga China bernama Ma Uk, sehingga tempat itu bernama Mauk.

Di tahun ini, warga China juga dilarang masuk Batavia, yang dikelilingi tembok dan parit  pertahanan kota. Mereka lalu bermukim di luar kota sebelah Tenggara, di atas tanah milik Arya Glitok, seorang bangsawan asal Bali, dan kini populer dengan nama Glodok. Juga ada yang lari ke Depok, yang kini dikenal dengan nama Pondok Cina.

Di tahun 1740 ini, anggota Majelis menuding Gubernur Jenderal VOC Adriaan Valckenier sebagai penanggung jawab peristiwa berdarah itu.

Tapi Valckenier balas menuding anggota Dewan Penasihat yang dianggapnya juga berperan aktif dalam segala tindakan pencegahan.

Pada 6 Desember 1740, Valckenier memerintahlan menangkap Baron van Imhoff dan dua penasihat lainnya, karena dianggap melawan perintah pembantaian berdarah itu.

Baron van Imhoff ditahan di dalam rumah megahnya sendiri di bawah pengawalan ketat serdadu kompeni, tanpa jabatan dan tanpa kekuasaan. Baron van Imhoff ditahan selama sebulan setengah.

Pada 15 Januari 1741, Baron van Imhoff dengan terpaksa harus meninggalkan rumahnya dan kembali ke Nederland untuk diadili.

Pada 15 Maret 1741, rumah kembar sebelah utara dijual dengan harga 10.000 ringgit kepada seorang pejabat pemerintah kota bernama Jan Hendrik Du Caylar, sedangkan sebelah selatan dibeli oleh Hugo Verijssel.

Pada 28 Mei 1743, Baron van Imhoff  kembali ke Batavia, setelah berhasil menangkis semua tuduhan yang dituduhkan. Dia kemudian diangkat menjadi Gubernur Jenderal VOC di Batavia, dan menempati Istana Gubernur Jenderal di dalam kastil Batavia.

Pada 18 Juli 1743, Baron van Imhoff membeli kembali sebagian rumah kembarnya di bagian utara dengan harga 14.000 ringgit. Sementara di bagian selatan tetap dihuni dan dimiliki Hugo Verijssel.

Baron tidak menempati rumah tersebut, melainkan mendirikan Kampus dan asrama  Academie de Marine, pada tanggal 7 Desember 1743

Academie de Marine merupakan pendidikan kadet untuk 4 tahun, dibatasi hanya 24 orang setiap angkatan. Mereka yang diterima di sini harus lahir dari perkawinan yang sah, berkelakuan baik, berumur 12-14 tahun, beragama Kristen protestan, dan pernah menjalani pelayaran minimal 6 bulan. Akademi ini tidak menerima golongan “inlander” atau pribumi.

Pada 1 November 1750, Baron van Imhoff meninggal dunia dan dimakamkan di halaman gereja Belanda Baru (kini museum wayang).

Di tahun ini juga, rumah kembar bagian Selatan menjadi rumah duka karena meninggalnya Presiden Kurator akademi ini, yang juga pemiliknya, Hugo Verijssel. Jandanya Sophia Francina Westpalm, masih menempati rumah ini hingga tahun 1760.

Pada 11 November 1755, Gubernur Jenderal VOC Jacob Mossel menutup akademi ini dan membeli rumah ini, serta menempatinya hingga tahun 1760. Maka berakhirlah riwayat dan fungsi rumah kembar sebagai Academie de Marine, dalam uisa hanya 12 tahun (1743-1755).

Seterusnya, rumah kembar ini berganti-ganti pemilik dari keturunan-keturunan orang Belanda yang menempati rumah ini sebelumnya.

Tahun 1786-1808

Seluruh bangunan disatukan menjadi Heerenlogement (Hotel). Selama 22 tahun  berfungsi sebagai hotel termegah di Batavia.

Baru pada tahun 1851-1920

Bangunan ini dimiliki warga China Oey Liauw Kong dan keturunannya, yang sejak itu berfungsi sebagai Toko, serta populer sebagai “Toko Merah”.

Warna tembok aslinya putih. Baru pada tahun 1923 oleh Direksi Bank voor Inde, tembok bangunan itu dicat dengan warna merah hati langsung pada permukaan batu bata yang tidak diplester.

Dsebut “Toko Merah” karena dulunya kusen pintu, jendela, plafon, tangga, bahkan mebel yang masih tersisa dari zaman VOC sudah memiliki corak warna merah hati yang hampir sama.

Tahun 1920

NV Bouwmaatschapij “Toko Merah”, memugar bangunan ini.

Bangunan ini pernah disewa Bank voor Indie dar tahun 1910 sampai tahun 1925.

Dalam akte tanah No. 957, No. 958 dan No. 959 tanggal 13 Juli 1920 disebutkan bahwa persil-persil ini milik NV. Bouwmaatschapij “Toko Merah”.

Tahun 1925-1934

Ditempati sejumlah Biro dan Kantor Dagang

Tahun 1934-1942

Pernah dinamai “Hoofd Kantoor Jacobson van den Berg”, karena pernah dimiliki dan digunakan sebagai kantor pusat perusahaan dagang NV. Jacobson van den Berg, salah satu dari perusahaan The Big Five milik Belanda.

Tahun 1942-1945

Gedung Dinas Kesehatan Tentara Jepang

Tahun 1945-1946

Ditempati oleh tentara gabungan Inggris-India

Tahun 1946

Kantor Dagang Nigeo-Eksport

Tahun 1946-1957

NV. Jacobson van den Berg

Tahun 1957-1961

PT Yudha Bhakti

Tahun 1961-1964

PN Fadjar Bhakti

Tahun 1964-1977

PT Satya Niaga

Tahun 1977-2003

PT Dharma Niaga

Tahun 2003 – kini

PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) dan Indonesia Trading Company.

“Toko Merah” kini  nama resmi dari Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta. Bahasa Belandanya Rode Winkel

B. ARSITEKTUR BANGUNAN

Letak bangunan sangat strategis, berada di kawasan jantung kota asli Batavia,  dekat dengan pusat pemerintahan VOC (Stadhuis), merupakan “Central Business District Batavia”. Saat itu sungai Ciliwung adalah urat nadi lalu lintas yang ramai. Wilayah Kali Besar ini Dikenal pula sebagai salah satu wilayah hunian elit di dalam kota Batavia.

B.1. Gaya Boer

Bangunan “Toko Merah” dibangun di atas areal seluas 2.455 m2. Luas sebelumnya 2.472 m2 (terkena pelebaran jalan).

Corak dan ciri bangunan cenderung mencontoh bangunan-bangunan di negeri Nederland, atau bergaya “Boer”. Rata-rata bertingkat dua atau tiga, letaknya saling berhimpitan, tanpa halaman depan dan samping. Kesannya polos dan kaku.

Atap bangunan menjulang tinggi dan curam sebagai penahan panas terik matahari untuk ruang di tngkat atas. Atap untuk bagian depan dibuat menjorok ke luar agar menjadi pelindung dari hujan dan panas.

Pintu dan jendela berbentuk persegi panjang, berukuran besar, jumlahnya banyak.

Ruangan dalamnya luas dan memiliki langit-langit yang tinggi. Tapi karena letaknya berhimpitan, maka bagian dalam ruangan terasa pengap, suram, dan lembab. Tipe bangunan ini sebenarnya tidak cocok untuk daerah tropis.

Dari depan, bangunan “Toko Merah” tampak bertingkat dua, tapi di bangunan belakangnya ternyata bertingkat tiga.

Denah bangunan berbentuk huruf “H”, dan bagian depan bangunan bersatu dengan trotoar.

Kaki bangunan “Toko Merah” berdiri di atas sebuah pondasi masif berdenah persegi panjang dengan keseluruhan bagian atas kaki dilapis lantai marmer. Marmer ini berwarna putih abu-abu berukuran 75 cm x 70 cm

B.2. Rumah Kembar Fungsional

Bangunan “Toko Merah” dibangun meniru gaya arsitektur Eropa, dengan paham “fungsionalisme”. Tidak menggunakan ornamen yang rumit dan berbelit-belit.

Bergaya luas, tanpa pilar-pilar, sehingga memungkinkan bangunan  bisa berubah fungsi apa saja. Sebuah perpaduan bangunan Cornice House (bangunan dengan dinding muka yang ujung atasnya datar dan diberi profil-profil pengakhiran) pada abad ke-18 dan atap tropis, juga memiliki parapet atas dan parapet bawah.

Terdiri dari dua bangunan utama yang berada di bawah satu atap, bangunan sebelah utara dan sebelah selatan. Dengan adanya parapet pemisah, maka jika terjadi kebakaran tidak akan sampai menjalar ke bangunan di sebelahnya.

Tempok depan bangunan  terbuat dari susunan batu bata yang tidak diplester lagi, dan baru ditambahkan pada pemugaran rumah pada tahun 1923 oleh Direksi Bank Voor Inde, karena sebelumnya tembok rumah itu dicat putih. Warna asli batu bata dicat dengan warna merah hati ayam.

Nama “toko merah” itu sendiri diperoleh dari kusen dan jendela yang dulunya sudah dicat merah hati dengan sedikit cat emas yang memberi nuansa ke-Tionghoa-an pada rumah ini, mengingat dulu meubeulnya pun memiliki warna yang sama. Sejak tahun 1840, unsur warna khas arsitektur China “merah” mulai mempengaruh bangunan ini.

B.3. Pintu Rococo Tunggal

“Toko Merah” memiliki dua buah pintu masuk berukuran besar dan tinggi. Pada bagian atas pintu masuk terdapat jendela angin yang berada pada satu kusen dengan pintu. Polanya berbentuk kotak-kotak, masing-masing memiliki 30 buah kotak.

Saat ini hanya pintu masuk bangunan selatan yang berfungsi, sedangkan pintu bangunan utara terkunci mati. Kusen pintu dan jendela dicat warna merah hati.

Ukuran pintu 3,05 m x 1,8 m, dengan ukuran jendela anginnya 1,9 m x 1,8 m.

Perlu dicatat, pintu masuk utama bangunan utara “Toko Merah” bukan pintu asli. Pintu aslinya dengan fanlight (lubang jendela di atas pintu yang bagian atasnya cenderung lengkung) dan terukir artistik dibongkar pada tahun 1901 dan dibawa ke Museum Pusat dan kini mash berada di ruang Numismatik Museum Pusat Jakarta.

Di belakang pintu masuk rumah sebelah utara terdapat sebuah pintu kedua yang menuju ke ruangan dalam, ini satu-satunya pintu dengan bagian atas berbentuk arch (busur melengkung) gaya rococo dengan hiasan plester. Pintu ini berukuran 2,38 m x 2,3 m, berdaun pintu ganda, terbuat dari kayu dan kaca, dengan bingkai kayu warna merah hati dan garis keemasan.

B.4. Jendela “Naik Turun”

Bagian depan bangunan “Toko Merah” ini  terpasang 10 jendela.

Pada lantai dasar, terpasang 4 jendela yang mengapit dua pintu masuk.

Pada lantai atas terpasang 6 jendela. Semuanya berbentuk persegi panjang,

Jendela ini menerapkan gaya abad ke-18 dan berskala monumental untuk mengimbangi ruangan-ruangan besar di dalamnya. Polanya hanya kotak-kotak. Cara membukanya ada dua tipe:

Tipe pertama, sistem jendela geser ke atas. Lazim dsebut sliding sashs, dibuka tutupnya naik turun. Yang dapat digerakkan hanya jendela pasangannya di bagian bawah.

Tipe kedua, sistem jendela dorong keluar. Sistem ini terdapat di ruang bawah tanah bangunan sebelah utara dan sebelah selatan.

B.5. Tangga Lingkar Antik

Untuk naik ke lantai atas bangunan, tersedia 6 buah tangga, semuanya terbuat dari kayu yang terukir artistik dan dicat merah hati.

Pada bangunan depan rumah bagian selatan, terpasang sebuah tangga menuju lantai atas, dengan posisi agak melingkar. Tangga ini terdiri dari tiga bagian dengan seluruh anak tangga berjumlah 24 buah.

Pada bagian belakang ruang tengah, di kiri kanan, masing-masing ada tangga dengan 20 buah anak tangga. Juga terbuat dari kayu berukir, yang terhubung dengan balkon di lantai dua. Tapi dari ukirannya jelas terlihat bahwa ukirannya bukanlah asli, melainkan dibuat pada saat gedung ini menjadi kantor pusat NV. Jacobson van de Berg. Tangga yang asli ada di Museum Pusat.

Di lantai dua gedung belakang hanya terdapat sebuah tangga dengan 8 anak tangga yang menuju lantai dua bangunan tengah.

Sedangkan untuk menuju lantai tiga, baik di sebelah selatan maupun utara, terdapat sebuah tangga dengan 7 anak tangga.

Dari lantai tiga, masih ada sepasang tangga menuju atap gedung dengan 17 anak tangga.

B.6. Atap Rumah Kampung

Bangunan ini memiliki tiga buah atap. Bangunan depan dan belakang memiliki atap dengan bubungan yang memanjang dari utara ke selatan. Sementara atap bangunan tengah, bubungan atapnya melintang dari timur ke barat, sekaligus merupakan atap penghubung bagi kedua atap bangunan depan dan belakang. Atap bangunan ini berbentuk atap pelana atau atap rumah kampung.

B.7. Ruang-ruang Toko Merah

Di lantai dasar terdapat 16 buah kamar, 8 ruang di bagian utara, 8 ruang di bagian selatan.

Di lantai dua, terdapat 4 buah kamar

Di lantai tiga, terdapat 5 buah kamar.

Pembagian ruang-ruang itu berfungsi sebagai:

ruang depan, kamar, bangsal, halaman depan, tangga, kamar belakang untuk para budak, portal, kamar tidur utama, serambi belakang, kantor, halaman belakang, gudang, serambi depan, dapur, bangunan tambahan, instal kuda, kamar kereta kuda, tempat memasang kuda.

3 thoughts on “SEKILAS SEJARAH DAN ARSITEKTUR “TOKO MERAH”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s